PUISI : Yanwi Mudrikah

oleh

PERCAKAPAN SUNYI

adam bersetia kepada waktu
dan hawa pasrah, melingkarkan
sunyi
di matanya

merapuh
keadaan semakin basah
pada ruang-waktu
yang menyembunyikan usia

adam terdiam
tidak ada dendam
yang menghangus hitam
namun
gumpalan-gumpalan rasa
menusuk batinnya
dalam bayang-bayang
yang merimbunkan puisi

hawa meneteskan airmata
yang dulu dalam peristiwa
waktu sempat diurai
dimuntahkan
tetapi ditelan kembali

adam risau
hawa bertanya-tanya kepada hati
pada diri
pada kertas-kertas
yang saling mencaci
pada bunga
yang urung mekar

tetapi hawa berlari
memilih memetik cahaya
sekaligus memenjarakan
rasa sepi

tetapi hawa menghitung waktu
mengikatkan rindunya
kepada purnama

Purwokerto, 12 Mei 2016

 

KETIKA RINDU HARUS DIULANG

ketika rindu harus diulang
kami membaca bongkahan bongkahan masa silam

ketika rindu harus diulang
kami nyanyikan lagu-lagu kenangan

ketika rindu harus diulang
kami bertahan dari dodoa yang mulai berguguran

Purwokerto, 16 Januari 2016

 

KUEJA NEGERI

ada cahaya yang sejajar dengan mimpi
cita-cita
yang muncul tiba-tiba
yang kubaca dari ribuan raga

anak-anak lantunkan lagu
sambil berkaca dengan debu
dan teteskan airmata
hingga matanya membiru

anakanak yang terapung
dari negeri senapan
yang tiap hari dendangkan
peluru… peluru
di wajah mereka sendiri

kueja negeri
kususun strategi
yang sahut menyahut
tiada henti

16 Juli 2016


*Yanwi Mudrikah, lahir di desa Darmakradenan, Ajibarang, Banyumas, 12 Agustus 1989. Cerpen dan puisi-puisinya terdokumentasi dalam antologi Bukan Perempuan (2010). Pilar Penyair (2011); Pilarisme (2012); dan Pilar Puisi (2013). Buku puisi tunggalnya Rahim Embun (2013), Menjadi Tulang Rusukmu (2016). Matahari Cinta Samudra Kata (Hari Puisi Indonesia, 2016).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco