Diduga Permainan Broker, Harga Daging Ayam di Cianjur Melonjak

oleh
Pedagang melayani pembeli ayam potong di pasar pagi Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Sabtu (4/6). Pada perayaan tradisi meugang kecil menyambut Ramadan 1437 H, permintaan daging ayam potong meningkat hingga mendorong kenaikan harga mencapai Rp70.000 per ekor dari harga biasanya Rp45.000 per ekor. ANTARA FOTO/Rahmad/foc/16.

CIANJUR, waktunews.com – Semakin melebarnya alur distribusi daging ayam yang dilakukan mafia broker, membuat harga daging ayam di Kabupaten Cianjur menjadi mahal. Hal itu, diungkapkan Ketua Asosiasi Pedagang Daging Domba, Ayam, dan Sapi (Apddas) Kabupaten Cianjur, Yayuk Sri Rahayu.

Yayuk menyebutkan, harga daging ayam di beberapa pasar di Cianjur berkisar Rp 30 ribu per kilogram. Kenaikan harga daging ayam di Cianjur mencapai Rp 1500 per kilogram,

“Jika terjadi penurunan harga hanya berkisar Rp 500 per kilogram,” ucapnya.

Yayuk mengaku, heran dengan harga daging ayam yang relatif mahal. Biasanya kenaikkan harga daging ayam akan diikuti dengan kenaikkan telur ayam. Namun saat ini yang terjadi harga daging ayam terus naik sementara harga telur ayam relatif stabil.

“Komunikasi telah kami lakukan dengan pemerintah daerah, agar harga daging ayam tak terlalu mahal dan terus mengalami kenaikan harga,” katanya.

Dia mengatakan, komunikasi yang dilakukan dengan pihak pemerintah, belum berhasil menstabilkan harga daging ayam. Bahkan, empat menteri pun sudah turun ke Cianjur beberapa waktu lalu, namun hasilnya masih belum terlihat.

“Kami yakin ada oknum yang bermain dengan kondisi ini, yang membuat harga daging ayam mahal. Perlu adanya langkah serius dari pemerintah agar harga daging ayam kembali stabil,” ucapnya.

Saat ini di Cianjur membutuhkan semacam penampungan sementara yang terintegrasi dengan penjual. Menurutnya hal tersebut harus dilakukan untuk memutus rantai broker atau perantara. Ia mengaku sedang mempelajari dan mengkaji dimana letak kejanggalan sampai harga daging ayam tersebut sangat mahal.

“Harga yang mahal tersebut karena permintaan dan persediaan yang tak seimbang atau karena ada faktor lain, seperti faktor harga pakan yang naik dan angkutan transportasi yang jauh. Namun, hal tersebut seakan menjadi alasan klise setiap kali kenaikkan harga daging ayam,” ujarnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Cianjur, Himam Haris, mengatakan bahwa saat ini kebutuhan daging ayam untuk warga Cianjur sebesar 450 ton per bulannya. Pihaknya mengaku sudah menyusun kebutuhan sampai kepada pasokan dari tingkat peternak. Pihaknya mengaku akan membantu stabilisasi harga dengan cara memotong rantai distribusi agar lebih pendek. “Kami sudah bangun stasiun agro, hal ini untuk memantau perkembangan harga dan kebutuhan pasar,” katanya. Asep Hendrayana/Net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco