Dadang Seorang Penyandang Penyandang Difabel Selama 30 tahun Maju Bersama Keterbatasan

oleh

Engkong begitu Dadang Mustofa (48) warga Kampung Gandasoli Desa Cikidangbayabang Kecamatan Mande ini akrab disapa. Dia menerima kenyataan hidup dimana beruntung telah dilahirkan, bukannya lahir dengan keburuntungan, lantaran cacat fisik bawaan lahir yang dialaminya. Namun semua itu, bukanlah masalah besar. Dia tetap bisa hidup normal layaknya karang yang dihempas sang ombak.

LAPORAN : EKY RIZKY

BETULKAN : Dadang Mustofa (48) warga Kampung Gandasoli Desa Cikidangbayabang Kecamatan Mande yang mengalami cacat fisik bawaan lahir yang dialaminya, saat membetulkan barang elektronik di rumahnya.

Keterbatasan bukan berarti terbatas segala-galanya, kata-kata itu lah yang selalu terngiang di telinga pria yang mahir menyulap barang elektronik rumah tangga yang sudah rusak ini, menjadi barang yang bisa digunakan kembali layaknya utuh. Kurang lebih sudah 30 tahun genap dirinya menjadi tukang servis benda elektronik untuk menapaki kehidupan.

Keahlian itu, ia dapatkan dari membaca buku lalu dipalajari secara otodidak. Hal ini lah yang membedakan dirinya dengan penyandang difabel lain yang terkesan pasrah dengan keadaan lantas tak berbuat apa-apa.

Menurutnya, kenyataan hidup bukanlah untuk ditampik ataupun dipasrahkan. Melainkan untuk diperjuangkan, maka dirinya berusaha keras untuk bisa hidup di tengah kerasnya persaingan manusia.

“Tidak peduli sepahit apapun kenyataan hidup, tentunya harus mampu kita dihadapi dan jalani. Sehingga saya pun berusaha agar bisa menjadi orang yang bermanfaat, meski dengan keterbatasan,” ungkapnya.

Kemudian, dirinya menjelaskan, benda elektronik milik tetangga maupun langganannya yang biasa ia perbaiki itu diantara lain adalah, Televisi, kulkas, setrikaan, DVD, Radio, dan benda elektronik rumahan lainnya.

“Untuk sebuah tarif servis pun, saya tidak pernah menargetkan sekian-sekian. Melainkan berdasarkan tingkat kerusakan saja, dimana dihitung dari kerusakan komponen yang harus diganti,” terangnya.

Bukan hanya itu, Pria yang kini sudah dikaruniai tiga buah hati tersebut, juga mempunyai sebuah radio amatir yang dimilikinya sejak tahun 2001. Dia bertujuan membuat warga setempatnya memiliki wawasan yang maju, sama sepertinya warga yang tinggal dekat pusat keramaian kota.

“Namun sejak tahun 2009 lalu, citra Utami FM (Pemancar Radio miliknya), sudah tidak bisa memancar. Pasalnya, tower sudah rapuh dan ada komponen yang memang harus diganti. Karena terbatas oleh dana untuk menggantinya, maka saya putuskan untuk diturunkan saja tower itu,” ucapnya.

Sebenarnya Dia memliki cita-cita yang sangat mulia, dari pendirian radionya itu. Yakni merangkul kaum difabel yang ada disekitarnya, untuk digabungkan dalam sebuah komunitas yang ia tujukan bagi pembinaan-pembinaan kaum difabel, supaya bisa menghasilkan dan bermanfaat seperti orang normal.

“Kondisi radio yang sudah tidak memancar, setidaknya menjadi hambatan untuk mensukseskan rencana saya, yang ingin mempersatukan kaum difabel dalam sebuah perkumpulan, yang bertujuan untuk kemajuan masing-masing,” pungkasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco