Paguron Tali Kerta Bertahan Tanpa Bantuan

oleh

Korbankan Masa Muda Demi Penerus Bangsa

Paguron Pencak Silat Pusaka Tali Kerta yang beralamat di Kampung Sindangsari RT 02/RW 01 Desa Mekarsari Kecamatan Agrabinta sudah berdiri sejak seratus tahun lebih. Perguruan tersebut tetap bertekat untuk mempertahankan seni budaya warisan leluhur bangsa, yang ditandai dengan ditetapkannya sebuah goong dan kendang Kabuyutan sebagai benda cagar budaya oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Cianjur.

Laporan: Ruslan Ependi

BERJUANG: Ki Sarana Tunggal saat menerima penghargaan dari Bupati Cianjur. Dirinya mengorbankan masa mudanyauntuk berjuang sendiri demi menyelamatkan jati diri bangsa.

Pimpinan Paguron Pencak Silat Pusaka Tali Kerta, Ki Sarana Tunggal (25), menerangkan bahwa selain dari penganugrahan dari Dikbud, Bupati Cianjur, H. Irvan Rivano Muchatar pun sudah mengetahui eksistensi dari Paguron yang dipimpinnya.

 “Saat beliau melaksanakan agenda CNL di Desa Mekarsari, kami hadir di sana menyatakan bahwa kami ada. Alhamdulillah, Pak Bupati sangat mengapresiasi,” katanya.

Dirinya menegaskan, perguruan yang dipimpinnya masih mempertahankan tradisi leluhur, dengan tetap mengajarkan setiap nilai–nilai filosofis dan gerakan paguron yang diajarkan pendahulunya.

 “Gabungan dua aliran besar Cikalongan dan Cimandean buah dari kreatifitas leluhur sangat saying bila harus diutak atik lagi,” ucapnya.

Dalam menyusun struktur organisasinya sudah dirasa cukup, lanjutnya, dari mulai pengurus seni intrumen karawitannya yang meliputi pencak dan degung, seni gerak silat dan upaca adatnya ada.

“Usianya seratus tahun lebih. Tapi yang saya tahu cuma masa bah Saip, turun ke kakek saya Bah Udin lalu ke ayah saya Bah Uyi dan sekarang saya sendiri,” tambahnya.

Dia memaparkan untuk berjumlah 80 lebih, dari usia tingkatan SD sampai SMA/SMK. Angka tersebut bisa lebih bila disertakan juga para anggota yang diluar paguron atau para tokoh silat alumni Paguron Pencak Silat Pusaka Tali Kerta yang masih sering datang.

“Untuk latihan, kami terfokus di padepokan dan luar ruangan seperti pesisir pantai Lugina Agrabinta,” ungkapnya.

Dalam hal prestasi, paguron yang dipimpinnya pernah menjadi Juara Pertama Putra pada Pentas Seni Tingkat Kabupaten dan Juara tiga putri pada Kejuaraan Antar Ranting Tingkat Kabupsten di Gedung Pramuka.

Dalam pemaparannya yang lain, menurut Ki Sarana Tunggal, apa yang dilakukannya adalah demi menjaga nilai luhur tradisi bangsa. Selain itu dirinya bertegat turut serta menyukseskan & Pilar Kebudayaan dan 7 Pilar Keagamaan yang diusung Bupati Cianjur.

“Sangat berat bila harus bersaing dengan buyala luar lewat propaganda kemajuan jaman sekarang. Tanpa bantuan dari siapapun, kami seolah berjuang sendirian. Saya mendapatkan amanah dari orangtua kandung saya memimpin paguron ini sebenarnya berat. Saya masih muda, masih ingin mengabiskan masa muda saya sebagaimana biasanya. Tapi karena tanggung jawab pada generasi mendanglah saya rela berkorban,” pungkasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco