Sungai Cisokan Meluap, Puluhan Rumah Warga Terendam

oleh

Pasutri jadi Korban, Satu Ditemukan Tewas

AGRABINTA – Dua orang warga Kampung Sindangsari, RT 002/001 Desa Mekarsari, Kecamatan Agrabinta, menjadi korban banjir yang merendam satu desa akibat luapan Sungai Cisokan, sejak beberapa hari terakhir. Satu korban meninggal ditemukan mengambang di pinggir laut Muara Cisokan, sementara satu korban hingga kini belum ditemukan.

Kedua korban tersebut, sepasang suami istri (pasutri) lanjut usia yang tiga hari menghilang. Kedunya, yakni Endin (60) dan istrinya Hobiah (50). Sementara, jasad Hobibah ditemukan di muara Cisokan dalam keadaan meninggal sekitar pukul 11.00 WIB, Senin (27/11/2017) kemarin. Sedangkan, suaminya, Endin hingga kini belum ditemukan.

Salah seorang warga, Sudirman (35), mengatakan, kedua korban yang juga pasutri tersebut saat kejadian tengah berada di kebun miliknya. “Soalnya ditubuh korban masih terdapat tas gendong yang isinya timun dan buah buahan,” kata Sudirman.

Korban Hobiah, lanjut Sudirman, dikenal baik oleh masyarakat sekitar. Mayatnya sendiri ditemukan warga dan aparat kepolisian Senin sore. “Namun, Bapak Endin belum ditemukan hingga sekarang. Untuk Almarhumah Ibu Hobiah, kami mohon doanya dari semuanya, agar Iman serta Islam Bu Hobiah di terima disisi Allah SWT. Juga semoga saja suaminya segera bisa ditemukan,” harapnya.

Informasi yang berhasil dihimpun, luapan sungai Cisokan yang mengakibatkan satu desa di Mekarsari terendam, telah terjadi hampir tiga hari. Sejak, hujan yang mengguyur wilayah tersebut terus terjadi. Sehingga, sungai Cisokan meluap dan masuk ke perkampungan, hingga ketinggian satu setelah meter.

Sejumlah kampung yang terendam, di antaranya Kampung Baru RT003/001, Kampung Sindangsari RT002/001, Kampung Bojongterong RT001/001 dan Kampung Babancong RT004/002, Desa Mekarsari Kecamatan Agrabinta. Sedikitnya, 40 lebih rumah warga terendam.

Saat ini, warga yang terkena musibah banjir mencari penampungan ke rumah warga lain atau mesjid untuk tinggal sementara. Bahkan, mereka (korban) berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) segera memberikan bantuan, untuk mengurangi beban yang diderita. “Selain personil Tim SAR dari BPBD, kami sangat membutuhkan sandang dan pangan,” papar korban banjir, Yani (40) warga Kampung Sindangsari.

Dia mengaku, sangat panik saat mengetahui ada luapan air yang semakin besar dari Sungai Cisokan. “Rumah kami saat ini terendam dan tidak bisa ditempati,” ujarnya.

Yani juga mengaku hanya membawa perabotan yang paling penting. Sedangkan sebagian besar harta bendanya masih berada di rumah yang terendam banjir. Bila saja luapan airnya surut, dirinya mungkin akan kembali menempati tempat tinggal bersama keluarga besarnya.

“Saat ini keselamatan jiwa yang paling penting. Tapi kami juga butuh makan, pakaian dan tempat berlindung,” pungkasnya. Ruslan Ependi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco