OPINI : Memupuk Nilai Toleransi, Guna Mewujudkan Bangsa yang Rukun dan Beradab

oleh

Sepanjang sejarah kehidupan umat manusia di muka bumi tidak terlepas dari berbagai macam konflik pertikaian. Pertikaian demi pertikaian di antara umat manusia terjadi karena disebabkan oleh banyak faktor kepentingan, kepentingan demi kepentingan tersebut membuat manusia menjadi satu-satunya makhluk di muka bumi ini yang hidup paling tidak harmonis.

Paisal Anwari (Kabid PAO HMI Cabang Cianjur)

Alam semesta beserta isinya telah diciptakan oleh Tuhan dengan sedemikian harmonisnya. Miliaran bintang dan planet bergerak teratur sesuai dengan jalurnya. Tumbuhan tahu kapan harus merontokkan daunnya untuk menyesuaikan musim, dan hewan buas tidak memangsa buruannya melebihi yang dia perlukan. Hal-hal tersebut memperlihatkan bahwa betapa Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakan kehidupan ini dengan keteraturan.

Manusia adalah makhluk terakhir yang diciptakan oleh Tuhan dan manusia dikaruniai Tuhan dengan begitu istimewanya. Ironisnya, meskipun dengan segala karunia yang telah Tuhan berikan, tidak serta merta membuat manusia memahami arti tujuan penciptaannya. Tuhan mengharapkan manusia dengan segala keunggulannya dapat menjadi penguasa bumi ini, sebagai penjaga dan pelestari apa yang telah Dia ciptakan. Segala hal telah diletakkan di hadapan kaki manusia agar supaya manusia selalu ingat bahwa Tuhan sangat mengasihinya dan diharapkan manusia dapat secara arif serta bijaksana memperlakukannya.

Secuil kisah di atas hendaknya boleh kita renungkan dalam kehidupan sehari-hari agar kita dapat menjadi manusia yang lebih baik. Sebagai manusia modern kita tidak dapat hidup secara individual, kita diwajibkan hidup dalam komunitas masyarakat dan berinteraksi satu sama lain secara rukun dan damai. Jika seluruh alam semesta saja mampu hidup secara harmonis seharusnya manusia juga bisa melakukannya. Namun kenyataannya tidak berkata demikian, manusia cenderung memiliki pola pikirnya sendiri, manusia kerapkali bersitegang satu sama lain dengan berbagai macam latar belakang permasalahan, justru dengan keunggulan yang dimilikinyalah manusia kesulitan untuk menerapkan hidup rukun berdampingan secara harmonis.

Begitu sulitkah bagi manusia untuk bisa mengasihi sesamanya? Sesungguhnya tidak! Pertikaian di antara manusia terjadi karena manusia belum menyadari bahwa musuh sesungguhnya bukan siapa yang ada di hadapannya tetapi musuh sesungguhnya adalah dirinya sendiri. Manusia dengan akal budi serta pikirannya telah sejak lama berusaha menggali kesadaran mereka, memahami tujuan dari penciptaan dirinya. Sebagai makhluk sosial manusia sangat tergantung terhadap satu sama lain, manusia tidak akan bisa bertahan hidup di bumi ini jika mereka hidup secara individual. Seiring proses berjalannya waktu yang membantu manusia menyadari bahwa pertikaian yang terjadi di antara mereka tidak dapat mendatangkan kebahagiaan dan sukacita melainkan mendatangkan dukacita serta kepedihan.

Indonesia sering dilihat sebagai contoh bagaimana masyarakat dengan beragam etnik dan agama bias hidup rukun dengan tanpa memunculkan masalah yang berarti dalam jangka waktu yang cukup lama. Penilaian seperti ini mungkin benar jika melihat potret masyarakat Indonesia pada umumnya yang mementingkan harmoni dan mempunyai toleransi yang cukup tinggi akan perbedaan di antara mereka.Meskipun demikian, penilaian seperti itu sebenarnya tidak sepenuhnya benar, mengingat masyarakat Indonesia sendiri menyadari akan rentannya hubungan di antara mereka dan juga mengalami seringnya konflik yang berlatar belakang agama.

Oleh karena itu, membangun kerukunan umat beragama telah lama menjadi perhatian dan upaya pemerintah,karena hubungan antarumat beragama di Indonesia bukan saja sering memunculkan masalah tetapi juga telah menimbulkan konflik berkepanjangan. Klimaks dari hubungan yang tidak baik antara pemeluk agama di Indonesia ini adalah terjadinya konflik SARA di Ambon dan Poso yang dinilai banyak orang sebagai konflik berlatar belakang agama, yakni antara pemeluk Islam dan Kristen. Konflik-konflik ini dikatakan sebagai konflik agama, karena bukan rahasia lagi bahwa kalangan yang terlibat di dalamnya telah memakai bendera agama masing-masing dan menegaskan adanya kepentingan agama yang mengiringi perjuangan mereka.

Hal lainnya adalah lemahnya pengawasan oleh pemerintah terhadap perkembangan agama di Indonesia. Pemerintah pada masa Orde Baru, misalnya, kurang memperhatikan pola-pola dakwah keagamaan yang dilakukan oleh beragam pemeluk agama yang ada. Aparat pemerintah tidak mempunyai kepedulian terhadap kemungkinan kerusuhan yang di-timbulkan oleh lalainya mereka dalam mengawasi pola pengembangan agama di daerahnya. Meskipun sudah banyak kasus terjadi, aparat di bawah kurang memahami apa yang harus mereka lakukan, sehingga ketika suatu pelanggaran terjadi dan memunculkan masalah mereka tidak dapat mengatasinya karena hal itu di luar pengetahuan mereka. Bahkan bisa dikatakan bahwa dalam beberapa kasus terdapat aparat pemerintah yang kelihatan kurang peduli dengan perkembangan keagamaan di daerah mereka, sementara dalam beberapa kasus lainnya mereka justru terlihat terlibat dalam pengembangan agama tertentu di daerahnya. Jadi dalam hal ini mereka bukan saja tidak membantu meningkatkan kerukunan antarumat beragama di daerahnya, bahkan memihak terhadap pengembangan agama tertentu.

Keadaan seperti itu tentu saja tidak menguntungkan bagi persatuan dan kesatuan sebagai bangsa, sebab perpecahan bukan saja akan menghambat pembangunan pada umumnya. tetapi juga menghilangkan semangat untuk membangun itu sendiri. Ini berarti bahwa ketahanan nasional di bidang agama akan menurun, yang dapat berakibat pada melemahnya persatuan sebagai bangsa. Konflik antara Islam dan Kristen ini akhirnya bersifat laten, yang bisa muncul lagi setiap saat dimasa mendatang. Situasi ini bahkan dikhawatirkan akan lebih memburuk, mengingat di antara pemeluk kedua agama tersebut telah muncul orang-orang yang sangat radikal dan fanatik. Dengan adanya keadaan seperti ini bukan saja pemantauan oleh pemerintah harus dilakukan tetapi juga upaya menurunkan ketegangan dengan menumbuhkan sikap tasamuh (toleran) harus dilakukan oleh para pemimpin agama.

Kerukunan dalam kehidupan dapat mencakup 4 hal, yaitu: Kerukunan dalam rumah tangga, kerukunan dalam beragama, kerukunan dalam masyarakat, dan kerukunan dalam berbudaya. Indonesia yang sangat luas ini terdiri dari berbagai macam suku, ras, dan agama serta sangat rawan akan terjadinya konflik pertikaian jika seandainya saja setiap pribadi tidak mau saling bertoleransi. Oleh karena itu marilah dimulai setiap dari kita bersedia berkomitmen untuk mau mengusahakan kehidupan bermasyarakat yang rukun dan damai. Ciptakanlah tri kerukunan umat beragama, yang mencakup: Kerukunan internal umat beragama, kerukunan antar umat beragama, dan kerukunan antara umat beragama dengan pemerintah. Jika kerukunan di antara umat beragama dapat terjalin dengan baik tidak hanya masyarakat yang harmonis tapi negara juga akan aman.

Kerukunan dapat dimulai di dalam keluarga kita masing-masing Ciptakanlah tolerensi di antara sesama anggota keluarga karena jika di dalam setiap keluarga tolerensi dapat terjalin dengan baik, imbasnya dapat dirasakan dalam kehidupan masyarakat.

Mengupayakan kerukunan dalam bermasyarakat adalah tanggung jawab setiap orang Nilai-nilai serta norma-norma beretika dalam bermasyarakat perlu ditanamkan sejak seseorang masih kecil. Saling menghormati, menghindari menggunakan perkataan kasar yang dapat menyinggung perasaan orang lain adalah salah satu cara yang dapat kita lakukan agar kita bisa bermasyarakat dengan baik. Kerukunan dalam berbudaya Leluhur bangsa Indonesia adalah orang-orang yang arif serta bijaksana. Budaya serta tradisi dibuat agar kehidupan dalam masayarakat semakin lengkap. Karena sifat kemajemukan budaya bangsa Indonesia yang beraneka ragam, maka kerukunan dalam berbudaya juga perlu diperhatikan. Lain ladang lain belalang, lain daerah lain pula budayanya. Oleh karena itu jika kita bepergian ke suatu tempat yang memiliki budaya yang sangat berbeda dengan budaya dari mana kita berasal, maka sudah kewajiban kita dengan senang hati untuk menghormati serta mengikuti budaya setempat tersebut.

Indonesia adalah negara yang memiliki keunikan tersendiri di dalam membangun, memelihara, membina, mempertahankan, serta memberdayakan kerukunan bermasyarakat. Upaya-upaya yang berkaitan dengan kegiatan kerukunan masyarakat tersebut merupakan sebuah proses tahap demi tahap yang harus dilalui secara terus menerus agar perwujudan kerukunan bermasyarakat benar-benar dapat tercapai. Di samping itu, kerukunan juga merupakan upaya terus-menerus tanpa henti dan hasilnya tidak diperoleh secara instan.

Kerukunan Hidup Umat Beragama, berarti perihal hidup rukun yaitu hidup dalam suasana baik dan damai, tidak bertengkar; bersatu hati dan bersepakat antar umat yang berbeda-beda agamanya; atau antara umat dalam satu agama. Dalam terminologi yang digunakan oleh Pemerintah secara resmi, konsep kerukunan hidup beragama mencakup 3 kerukunan. yaitu : kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat yang berbeda-beda agama, dan kerukunan antara (pemuka) umat beragama dengan Pemerintah.

Upaya mewujudkan kerukunan hidup beragama tidak ter¬lepas dari faktor penghambat dan penunjang. Faktor peng¬hambat kerukunan hidup beragama selain warisan politik penjajah juga fanatisme dangkal, sikap kurang bersahabat, cara-¬cara agresif dalam dakwah agama yang ditujukan kepada orang yang telah beragama, pendirian tempat ibadah tanpa meng¬indahkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan pengaburan nilai-nilai ajaran agama antara suatu agama dengan agama lain; juga karena munculnya berbagai sekte dan faham keagamaan kurang¬nya memahami ajaran agama dan peraturan Pemerintah dalam hal kehidupan beragama. Faktor-faktor pendukung dalam upaya kerukunan hidup beragama antara lain adanya sifat bangsa Indonesia yang religius, adanya nilai-nilai luhur budaya yang telah berakar dalam masyarakat seperti gotong royong, saling hormat menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya, kerja¬sama di kalangan intern umat beragama, antar umat beragama dan antara umat beragama dengan Pemerintah.

Pada zaman kemerdekaan dan pembangunan sekarang ini, faktor-faktor pendukung adalah adanya konsen¬sus-konsensus nasional yang sangat berfungsi dalam pembinaan kerukunan hidup beragama, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Peraturan Perundang-undangan yang berlaku di bidang atau yang berkaitan dengan kerukunan hidup beragama. Dari segi Pemerintah, upaya pembinaan kerukunan hidup beragama telah dimulai sejak tahun 1965, dengan ditetapkan¬nya Penpres Nomor 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama yang kemudian di¬kukuhkan menjadi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969. Pada zamam pemerintahan Orde Baru, Pemerintah senantiasa memprakarsai berbagai kegiatan guna mengatasi ketegangan dalam kehidupan beragama, agar kerukunan hidup beragama selalu dapat tercipta, demi persatuan dan kesatuan bangsa serta pembangunan. Untuk itu mari kita pupuk rasa toleransi kita untuk mewujudkan bangsa yang rukun dan beradab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco