Cerita Atep Tekuni Usaha Jangkrik Bersama Istri, Hasilnya Wow!

oleh
Foto: Istimewa for Waktunews.com
TEKUN: Pasutri Atep dan Neng di Desa Mayak Kecamatan Cibeber menekuni usaha ternak jangkrik yang dapat menghasilkan keuntungan hingga jutaan rupiah.

CIANJUR – Atep Mamun (45) dan istrinya Neng Susanti (38), warga Kampung Pasir Kalapa RT 04/RW 08 Desa Mayak Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur menekuni usaha ternak jangkrik sekitar satu tahun. Awalnya, pasangan suami istri (pasutri) itu mencoba dan lihat dari internet, kini omset per bulan bisa mencapai jutaan rupiah.

“Saya berawal dari mencoba dan lihat internet bahwa ada ternak yang ramah lingkungan dan keuntungannya lumayan mencapai dua kali lipat dari modal, yakni ternak jangkrik,” kata Atep Mamun, saat ditemui sambil memeberi pakan ternak jangkrinya.

Ia mengatakan, keuntungan yang bisa didapatkan mencapai Rp 4 juta dalam 45 hari. Menurutnya, saat ini ternak jangkrik masih jarang di Cianjur.

“Jadi ternak jangkrik ini masih jarang diminati di Cianjur, namun setelah saya mencoba dan hasilnya sekarang alahamdulilah, awalnya dari 10 kas dari sekarang sudah menjadi 36 kas,” kata dia.

Atep menjelaskan proses peternakan jangkrik tersebut dari satu kilogram telur jangkrik seharga Rp 250 ribu, bisa menghasilkan 40 kilogram jangkrik sebesar puntung roko dengan ukuran 2,5 centimeter yang siap dipanen dengan harga jual Rp 34 ribu per kilogram.

“Saya ini punya 36 kas wadah ternak jangkrik yang terbuat dari triplek dengan ukuran dua meter x 80 centimeter bibit telur jangkrik hanya 3 kilogram. Dari 36 kas tersebut bisa menghasilkan 140 kilogram jangkrik,” ujarnya.

Isteri Atep, Neng Susanti (38), menambahkan sebenarnya kalau usaha ternak jangkrik ini hasilnya lumayan. Usahanya ramah lingkungan dan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Namun dirinya mengaku sangat kesulitan bibit telur jangkrik.

“Mungkin di Cianjur masih jarang yang ternak, jadi kalau beli bibit harus dari luar kota,” kata dia.

Susanti berharap, pemerintah bisa membantu usaha ternakanya agar bisa berkembang. Pasalnya pesanan dari pasar-pasar burung tidak terlayani karena susahnya mendapatkan bibit telur jangkrik.

“Mungkin kalau ada suntikan dana saya bisa droup bibit lebih banyak dari Jawa dan bisa menambah lagi kas-kasnya. Jadi saya berhap sekali pemerintah bisa melirik ternak jangkrik,” ucapnya penuh harap. (Asep Hendrayana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco