Cerpen : Bayi Titisan Setan

oleh
Ilustrasi : Lukisan Kurt Cobain

Oleh : Asep Dani

 

Malam semakin mencekam. Nyanyian di hutan pun kian memilukan, bulukuduk semakin berdiri.
Tidak ada bulan yang menerangi jalan, hanya beberapa kunang-kunang kerlap-kerlip di dedaunan dan semak belukar.

“Man, apakah tidak salah jalan?” tanya Parto ketakutan.

“Tidaklah, To. Soalnya ini jalan satu-satunya, tidak ada jalan lainnya,” ujar Maman.

“Awas kalau salah, kamu tak jadiin perkedel,”

“Emang dagingku enak, To? Kamu ada-ada aja,”

“Eh, kamu kan gak ada daginya, Man. Mana bisa aku makan,”

“Wusss … Sudah kita jalan lagi.”

Parto dan Maman terus berjalan di antara pepohonan yang rimbun. Seakan tidak ada celah untuk cahaya yang masuk ke dalam hutan tersebut.

Angin malam kian dingin, Maman dan Parto semakin ketakutan. Burung hantu tidak henti bersuara, dan lolongan anjing pun menambah seram suasana di hutan tersebut.

“Man, aku takut loh! Ayo kita kembali lagi,” ajak Parto yang semakkn gemetaran.

“Ah, kamu jenggot aja panjang dan badan berotot, masa takut sama gelap dan suara hewab begituan,” ketus Maman.

“Emang kamu tidak takut, Man?” tanya Parto penasaran.

“Tidak! Kan ada kamu yang menemani, jadi kalau ada apa-apa kamu aku jadikan tameng,” jawab Maman.

“Ah … Sama aja kali.”

Perjalanan Maman dan Parto masih terus berlanjut.
Entah apa yang mereka cari hingga berani menelusuri hutan belantara, yang bisa membuat mereka berdua kehilangan nyawa.
Hutan yang ditumbuhi pohon-pohon besar dan purba itu semakin menakutkan. Maman dan Parto pun masih terus berjalan melewati anak sungai yang mengalir di tengah-tengah hutan tersebut.

“Man, aku capek nih! Kita istirahat dahulu aja?” ajak Parto terlihat kelelahan.

“Jangan, To. Ingat pesan yang orang tadi ucapkan,” ujar Maman.

“Iya, Man aku ingat, tapi aku capek dan pegal,”

“Tahan aja, To. Kalau kita istirahat bisa-bisa tertidur untuk selama-lamanya di sini,”

“Tidak mau, Man. Lebih baik jalan terus saja, Man. Nanti istirahatnya di tempat yang kita tuju saja,”

“Nah gitu, dong.”

Dua jam telah berlalu menelusuri hutan tersebut, kelelahan dan ketakutan pun dilawan perlahan-lahan. Ada sesuatu yang disembunyikan di balik raut wajah Maman yang tetap semangat menelusuri hutan belantara, berbeda dengan Parto yang cepat lelah dan ketakutan.

“Awwwww… Aw-aw-aw.. Awwwww.”

Tiba-tiba terdengar suara jeritan wanita di tengah hutan tersebut.

“Ma-ma-man, suara apa itu?” tanya Parto.

“Kayaknya ada seseorang yang berteriak, To. Kita ke sana, yuk!” ajak Maman.

“Tidak mau ah, Man. Lebih baik kita terus saja berjalan ke tempat yang di tuju, besok saja lihatnya,” ujar Parto sembari ketakutan.

“Sekarang aja, To. Mungkin ada yang membutuhkan pertolongan kita, To. Ayolah, kita menuju sumber suara tersebut,”

“Man, jangan. Mungkin itu suara setan penghuni hutan ini,”

“Husst .. Kamu jangan bicara begitu, To!”

“Iya, terserah kamu deh, Man.”

Maman dan Parto pun terus berjalan menelusuri sumber suara tersebut. Walau ada sedikit rasa takut di benak Parto, tetapi memberanikan diri karena takut ditinggalkan oleh Maman.

“Man, tunggu dulu dong!”

Parto semakin ketakutan dan tangannya tidak bisa lepas dari sarung yang di pakai Maman.

“Awwwww … Sakittttt .. Sakittttt … Sakitt … Sa-sa-sa-kittttt .. Tolong!”

Suara teriakan tadi semakin jelas terdengar, Maman pun cepat berlari menghampiri sumber suara yang telah dia dengar.
Langkah kakinya terus menuju ke arah suara. Perlahan-lahan Maman dan Parto mulai mendekati jeritan tersebut.

“Man, kita kembali saja, yuk! Perasaanku tidak enak nih,” ajak Parto.

“Ssttt … Bentar, To. Kita harus tahu siapa yang berteriak di tengah hutan begini, takutnya ada penculikan,” ujar Maman.

“Yasudahlah, tapi aku tidak enak perasaan, Man,”

“Tenang, selama ada Maman kamu aman, To.”

Akhirnya Parto pun mulai mempercayai setiap perkataan Maman.


Tidak lama berselang.

Di balik semak-semak belukar, Maman dan Parto bersembunyi untuk melihat apa yang terjadi.

“Man, ayo kita pergi!” ajak Parto semakin ketakutan.

“Bentar dulu, To.”

Mata Maman tidak hentinya melihat ke arah teriakan yang memilukan.

Dan tiba-tiba terdengar suara lain.

“Oo-aa-oa-oa-oa.”

Suara bayi yang baru lahir pun dengan jelas terdengar di telinga Maman dan Parto.

Namun, tidak lama berselang bayi tersebut mendadak berada di depan mereka berdua.

Bayi yang berwajah pucat dan tali pusar masih menempel di perutnya berdiri di depan Maman dan Parto.

Maman dan Parto pun kaget dan tidak bisa bergerak.

“Ma-ma-ma-man, tu-tu-tuh se-se-setan,”

“Kabur, To.”

Mereka berdua pun lari tunggang-langgang, namun apa daya bayi tersebut sudah berada lagi di depan mereka.

Bayi yang lapar dan haus akan darah pun tidak lama kemudian menghabisi nyawa Maman. Parto yang tiba-tiba mematung dan kencing di celananya semakin ketakutan.

Maman pun terbujur tidak berdaya di tanah, dan kini Parto sendirian tidak bisa lari kemana-mana.

Bayi setan tersebut pun tidak tinggal diam, perut yang masih kelaparan tidak menyia-nyiakan makanan yang nikmat di depan matanya.

Parto pun akhirnya menjadi hidangan penutup buatnya. Parto dan Maman tergeletak di tengah hutan tanpa ada pertolongan dari siapapun.

Bayi setan pun setiap waktu bisa memakan korban jiwa tanpa pernah ada yang tahu. (**)


*Asep Dani, mahasiswa Sains Terapan (Agribisnis Pertanian) UNSUR Cianjur. Aktif di Ruang Sastra Cianjur (RSC), Forum Lingkar Pena (FLP). Karya-karyanya sudah dimuat di berbagai buku antalogi karya sastra sejak tahun 2014.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco