Puisi : Ujang Saepudin

oleh
Ilustrasi : Lukisan Love Hearh (NN)

Pintu Langit

pintu langit membuka angin semilir
menabur seluruh hawa dingin
di atap gunung
anak-anak bermain baling-baling
dan suara angin di puncak gemuruh
pohon-pohon bagai tiang kokoh

aku masih sendiri
menikmati himpitan baris rumah
dan ingin menolak jutaan resah
lalu kuteguk cahaya
kutelan noda di secangkir kopi.
didekapnya erat jiwa ini

burung gereja bersiul
jadi nyanyian merdu
irama ke irama beradu
melepas tangkai dari jejak pilu
atas nama keteduhan yang jatuh
di pematang dekat bukit itu
Cianjur, 2018

Menghapus Jarak

Kepergianmu telah menjadi labirin masa lalu. Membuat ngilu. Kemudian kau masuk lagi dalam ceritaku di waktu-waktu yang samar. Dengan lembar-lembar senyum mekar.
Aku memilih jalan kosong. Tanpa penghuni. Tanpa isi. Tak ada lagi hujan-hujan yang membasahi di panjangnya malam ini. Lalu siapa luka? yang bertubi-tubi. merusak kekosongan.
Tiga tahun lalu. Aku pamit. Melepas jarak. Rindu kadang berdetak. Tapi sekilat kutolak. Kau hadir lagi dengan mengenang luka. Menusukku hingga rongga dada. Sampai pedih muntah mendidih.
Kini aku bukan kekasihmu lagi. Aku telah melupakanmu dan sudah kubakar sejarah satu per satu. Menjadi abu.

Cianjur, 2018


*Ujang Saepudin, menulis puisi dan cerpen. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Suryakancana Cianjur. Bergiat di Ruang Sastra Cianjur (RSC). Kini masih bermukim di Cipanas, Cianjur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco