MDS Rijalul Ansor: Isu PKI Hancurkan Kerukunan Indonesia

oleh
Foto: Ruslan Ependi/waktunews.com PENGAJIAN: KH. Cepy Hibbatullah (baju hitam) sesaat setelah selesai acara pengajian bulanan dan Bathsul Masail PC MDS Rijalul Ansor Cianjur.

CIANJUR – Pengurus Cabang (PC) Majlis Dzikir dan Sholawat (MDS) Rijalul Ansor Kabupaten Cianjur, mengeluarkan hasil Bathsul Masail (kajian keilmuan) mengenai isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI). Bertempat di Pondok Pesantren Hibbatusyadiyah Nagrak Kecamatan Cianjur, Sabtu (3/3) malam.

Bathsul Masail yang masuk dalam agenda rutin pengajian bulanan PC MDS Rijalul Ansor Cianjur dihadiri oleh puluhan ulama muda dan para santri senior dari berbagai wilayah Kabupaten Cianjur serta kabupaten lain.

Ketua PC MDS Rijalul Ansor Cianjur, KH. Cepy Hibbatullah menjelaskan hasil dari Bathsul Masail Malam Minggu tersebut menyatakan, PKI yang digembar-gemborkan oleh segelentir orang belakangan ini sebuah ketidakmungkinan.

“Sebagai sebuah organisasi, PKI tidak mungkin bisa hidup lagi karena ada produk TAP MPR no 25. Tapi sebagai sebuah isme, atau ideologi, komunisme akan tetap ada. Hal ini disadari karena sebuah faham tidak mungkin diberangus atau dimatikan,” jelasnya.

KH. Hibbat menerangkan, untuk memerangi idelogi komunisme tidak bisa dilakukan dengan cara-cara kekerasan. Harus dengan cara persuasif yang merangkul, dan memberikan pencerahan menegenai bahaya komunisme dan indahnya nilai-nilai Islam yang sepadan dengan Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia.

“Persoalan ini merupakan pekerjaan rumah bagi Rijalul Ansor Cianjur,” ucapnya.

Merurutnya, masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Cianjur harus berhati-hati dengan isu kebangkitan PKI. Rijalul Ansor mensinyalir ada rencana besar untuk membuat keresahan dan terjadinya perpecahan ditengah-tengah kemajemukan Bangsa Indonesia. Masyarakat bisa saling curiga dan bertikai satu sama lain.

“Orang yang teriak-teriak kebangkitan PKI kan itu-itu juga, dari kelompok itu-itu juga. Sedangkan kami, keluarga besar Nahdlatul Ulama, yang benar-benar berperang secara fisik dengan PKI Tahun 1965 – 1966 di Jawa Tengah dan Jawa Timur tetap tenang-tenang saja,” ujarnya.

KH. Hibbat mengharapkan rakyat Indonesia, terutama masyarakat Cianjur agar tidak terpancing oleh isu-isu yang tidak bertanggungjawab dan tetap menjaga kerukunan dalam kehidupan sosial bermasyarakat berbangsa serta bernegara. 1340 Suku-suku yang ada di Indonesia harus tetap rukun, aman dan damai dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan falsafah Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sebagai perekat persaudaraannya.

“Jangan sampai seperti Afganistan. Cuma 7 suku yang mendiaminya, tapi perang semua lawan semua,” pungkas Kiayi lulusan Pesantren Lasem Jateng ini mengingatkan. (Ruslan Ependi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco