Anak-anak Mengemis ke Turis Timteng, Begini Komentar Pemerhati Sosial

oleh
Foto: Istimewa

CIPANAS – Sejumlah anak di daerah Pacet dan Cipanas terancam putus sekolah, karena kebisaan meminta uang kepada wisatawan Timur Tengah. Petugas Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kecamatan Cipanas, Aat Atikah, menuturkan setelah ditelisik ternyata di Kota Bunga banyak anak yang tidak sekolah meminta ke Arab. Tentunya hal ini sangat disesalkan, karena sebenarnya pendidikan itu sangat penting sekali untuk masa depan mereka.

“Anak-anak usia kisaran delapan tahun hingga 13 tahun saat di Kota Bunga jumlahnya lumayan banyak. Mereka itu keasyikan meminta uang dari wisatawan Timteng, ini harus menjadi sorotan bersama jangan sampai mereka fokus mencari uang dan mengesampingkan pendidikan,” terangnya.

Dia menambahkan, peran orangtua sangat penting. Namun sayangnya mereka malah dibiarkan begitu saja mencari uang. “Mereka itu saat ini banyak berpikiran, dari pada menerima uang dari orangtua hanya Rp 5 ribu tapi dari orang Timteng mereka bisa menerima Rp 50 ribu lebih. Tentunya pola pikir mereka itu harus diubah secara perlahan,” terangnya.

Pemerharti sosial, U.Surahman, mengatakan keberadaan turis Timteng jelas bisa meningkatkan perekonomian. Namun bisa terjadi masalah sosial terhadap anak yang berprofesi pengemis mulai menjamur usia dini. “Jelas ini harus bisa disoroti bersama,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, tidak hanya anak putus sekolah mereka juga ada yang salah pergaulan. Makanya, masalah anak-anak menjadi pengemis ini harus bisa diatasi. “Seharusnya anak-anak ini mendapatkan binaan dan pendidikan oleh orangtuanya Kalau sudah begini bisa termasuk ekploitasi anak dan melanggar Pasal 1 UU No.23/2002 disebutkan bahwa Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi,” tegasnya.

Makanya,  para pelaku eksploitasi terhadap anak baik itu secara ekonomi atau lebih jauh seksual harus diberikan sanksi. “Dalam pasal 88 UU No.23/2002 yang berbunyi setiap orang yang mengeksploitasi ekonomi atau seksual anak dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah),” ungkapnya.

Maka dari itu, masalah anak-anak pengemis ini harus bisa ditindak lanjuti bersama. Jangan sampai mereka itu bisa terus menjamur. “Ini butuh kepedulian, agar eksploitasi terhadap anak tidak terus terjadi,” pungkasnya. (Farhaan Muhammad Ridwan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco