Jelang Ramadhan, Hibbatussa’diyyah siapkan Pasaran 12 Pan plus-plus

oleh

 

Foto: Ruslan Ependi/ waktunews.com,
Ajengan Hibbat saat menjadi instruktur melukis para mufasyirin sebelum masuk pada agenda utama Bulan Ramadhan, yakni Pasaran 12 Pan plus Mantiq. Menurutnya, melukis berguna melatih kelembutan serta kepekaan bathin para santrinya.

CIANJUR – Menjelang Bulan Suci Ramadhan, marak sekali Pondok Pesantren (Ponpes) atau masjid-masjid besar yang mempersiapkan diri untuk mengadakan pengajian ataupun kajian keilmuan untuk para santri mukimin ataupun santri dadakan (mufasyirin).

Begitu juga Ponpes Hibbatu’sadiyyah yang berala

mat di Kampung Tegal Buled Desa Nagrak Kecamatan Cianjur. Disini, menjelang masuk bulan suci Ramadhan, para mufasyirin sudah berdatangan dari berbagai wilayah di Kabupaten Cianjur. Uniknya, sebelum masuk pada pelajaran ilmu agama, para santri serta mufasyirin dilatih kepekaan dan kehalusan rasa terlebih dahulu dengan belajar melukis.

KH. Cepy Hibbatulah, Pimpinan Ponpes Hibbatussa’diyyah menerangkan, hukum seni lukis dalam Islam diperbolehkan. Sebagaimana juga hukum memajang foto orang, baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup. Hal ini dikarenakan, pada dasarnya, foto ataupun lukisan orang merupakan objek bayangan yang ditangkap kamera atau imajinasi manusia.

“Yang menjadikannya haram adalah apabila hasil dari kreasi seni tersebut dijadikan bahan untuk disembah atau dikultuskan selain Allah SWT. Demikian juga dengan objek foto atau lukisan telanjang yang diperlihatkan bukan pada muhrimnya, itupun menjadi haram. Ini pendapat Syekh Yusuf Qaradhawi,” terangnya.

Masuk pada agenda utama, yakni pasaran 12 Pan selama Bulan Ramadhan, Ajengan (Kyai dalam bahasa Sunda) Cepy menjelaskan, pelajaran ini untuk menciptakan generasi yang memahami Al qur’an dan Hadist dengan khasanah ilmunya.

“Makanya, pasaran 12 Pan ini disebut juga ahlul adab, karena didominasi oleh kajian ilmu alat. Namun harus difahami juga, ahlul adab ini bukan bagian dari ilmu Tashauf, yang biasa disebut dengan ahlul akhlak, ” jelasnya.

Dan ahlul adab ini, lanjut Ajengan Cepy, masuk ke kajian kitab shorfun, bayanun, ma’ani, nahwu, qofiatun, syi’run, munadhoroh, khotun, lughoh, isyaau, isytiqoqun, arudlun dan ditambah satu mantiq.

“harapannya adalah para santri, nantinya, saat membahas al qur’an ataupun hadist disertai dengan khasanah ilmu yang menyertainya, sehingga tidak terjatuh pada kondisi gagal faham,” tutupnya. (Ruslan Ependi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco