Tugu Bubur Ayam Dalam Perspektif Pelaku UMKM

oleh

 

Foto: Istimewa,
Diapresiasi: Kalangan pelaku UMKM Cianjur, mengapresiasi keberadaan Tugu Bubur ‘Miring’, sebagai simbol kuliner khas Cianjur. Tugu ini juga dinilai sebagai lambang dari kemandirian sektor UMKM yang juga menghasilkan PDB dan PAD bagi Cianjur.

CIANJUR – Pembelaan atas keberadaan Tugu Bubur ‘Miring” yang berlokasi di pertigaan Jalan Raya Cipanas dan Pegadaian Kecamatan Pacet, dibela pelaku usaha Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), (22/05/2018).

Mario Daves, yang memiliki usaha olahan hasil pertanian khas Cianjur yang berlokasi di kawasan Sabandar Kecamatan Karangtengah mengutarakan, keberadaan Tugu Bubur dalam perspektif pelaku UMKM, keberadaan tugu tersebut patut diapresiasi.

“Ini terlepas dari argumen besaran anggaran, nilai estetika dan lain-lain,” ucapnya.

Menurutnya ada beberapa alasan kenapa pelaku UMKM mengapresiasi tugu tersebut. Pertama, Tugu Bubur ‘Miring’ itu adalah simbol bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur menaruh perhatian besar terhadap keberadaan produk-produk lokal pelaku UMKM yang terwakili oleh produk bubur ayam. Selain itu, tugu tersebut juga sebagai pembuktian, bahwa produk-produk yang diproduksi oleh wirausahawan lokal mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap PDB serta PAD Kabupaten Cianjur.

“Ada kontribusi antara kami pelaku UMKM dan Pemkab yang saling menguntungkan,” katanya.

Mario juga menjelaskan, Tugu Bubur Miring, merepresentasikan kecintaan terhadap produk lokal. Tapi tidak hanya sekedar produk jadi, bubur ayam juga merepresentasikan penggunaan bahan baku lokal. Terlihat dari penggunaan beras lokal Cianjur yang terkenal akan kualitas terbaiknya, pepes daun bawang yang diambil dari hasil panen petani Cipanas, sate telur puyuh yang bahan bakunya diambil dari peternak puyuh yang tersebar di Cianjur.

“Tugu itu sebagai simbol 100% Indonesia, simbol kecintaan terhadap produk lokal dan simbol kecintaan terhadap kemandirian,” jelasnya.

Dalam pandangannya, yang paling penting dari tugu tersebut adalah substitusi pesan bahwa, Pemkab Cianjur ingin menyampaikan kepada konsumen luar kota yang sering belanja Maranggi di Pacet dan yang melintas di pertigaan Pacet. Bahwa selain Maranggi, ada bubur ayam khas Cianjur. Ingat bubur, ingat Cianjur. Hal ini tentu didukung oleh keberadaan pedagang bubur ayam Cianjur yang berada di luar Cianjur yg telah lama menjadi duta wisata dan budaya Cianjur.

“Kita tahu, bahwa sate Maranggi telah diklaim secara sepihak oleh pemerintah Purwakarta. Tentunya perlu ada identitas lain yang harus ditampilkan kepada publik diluar Cianjur tentang kekayaan kuliner lokal,” tutup pengusaha olahan pertanian, sayur kering dan nasi liwet instan ini menerangkan. (Ruslan Ependi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco