Tugu Bubur Tumpah di Pertanyakan Masyarakat

oleh
Foto: waktunews.com,
Tugu Bubur Tumpah dinilai tidak mencerminkan sisi filosofis dan kesejarahan masyarakat di tempat tugu tersebut berada. Cianjur yang sarat sejarah dan legenda tidak terwakili oleh Tugu Bubur Tumpah tersebut.

PACET – Tugu Bubur Tumpah yang berlokasi di pertigaan Pegadaian, Arah Kecamatan Pacet sebrang sate maranggi di Kecamatan Pacet dipertanyakan masyarakat, (21/05/2018).

Eko Wiwid (43) seorang warga Cipanas, yang juga penggiat budaya Cianjur meenyayangkan keberadaan Tugu Bubur yang dinilainya tidak mencerminkan segi filosofis dan kesejarahan Kabupaten Cianjur itu sendiri.

“Sebelumnya saya mohon maaf. Saya hanya ingin mempertanyakan saja. Dan ini tidak ada urusan dengan soal Isu HOAX di Cianjur dan juga tidak ada urusan dengan Hak Angket DPRD Cianjur yang sedang mencuat belakangan ini,” ucapnya.

Eko menjelaskan, dirinya hanya penasaran dengan tugu tersebut. Apa yang melatar belakangi Pemkab Cianjur memilih objek tugu dengan bentuk Bubur Tumpah seperti ini ?. Apa hubungannya dengan nilai-nilai tentang kehidupan Cianjur secara umum ?.

“Apa hubungannya Bubur Tumpah tersebut dengan tempat berdirinya tugu ini ?” Tanyanya.

Menurutnya, Cianjur punya banyak catatan sejarah panjang yang bisa digali dan diimplemtasikan dalam bentuk tugu. Tapi tidak untuk di gambarkan dengan Mangkuk Bubur Ayam Tumpah.

“Tim kreatif yang memberikan masukan pada dinas terkait yang harus bertanggungjawab atas kegaduhan baru ini,” ujarnya.

Dirinya berharap, di tempat Kelahirannya, di Kawasan Puncak Cipanas Cianjur memang ada monumen atau tugu yangbsesuai dengan historis dan ketokohan yang jadi legenda di Kawasan Cipanas.dan Sekitaranya. Di antaranya sosok Dalem Cikundul, legenda Cianjur yang berkaitan dengan Cikundul dan Gunung Gede.

“Ataupun sosok Persiden Pertama Indonesia, Ir. Soekarno, yang banyak kisah hidup di Cipanas. Dan faktanya, ada tempat khusus peninggalan Soekarno di Istana Cipanas atau Gedung Bekas Belanda,” tukasnya.

Saya bicara bukan atas dasar ingin dianggap oleh Pak Bupati atau pemanggu kebijakan, lanjutnya, semuanya atas rasa sayang terhadap tempat kelahiran.

“Sebagai orang pecinta seni dan kebudayaan, saya pun punya rancangan sendiri soal apa yang oantas dipajangkan di wilayah tempat saya lahir, hidup dan mungkin, tempat saya mati dikemudian hari,” pungkasnya. (Farhaan/ Ruslan Ependi)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco