BEM Unpi Gelar Nobar & Diskusi Tragedi Jakarta 1998

oleh
Foto: Githa Hanifa/ waktunews.com,
Penyadaran: Kegiatan Nonton Bareng dan Diskusi gerakan Reformasi 1998 dilaksanakan di Kampus Unpi guna melakukan penyadaran terhadap eksistensi mahasiswa yang bukan hanya mengejar nilai tinggi, tapi juga menjadi beking kepentingan seluruh rakyat Indonesia.

 CIANJUR – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Putra Indonesia (Bem Unpi) gelar kegiatan Nonton Bareng dan Diskusi Film “Tragedi Jakarta 1998” di Ruang C104 kampus Unpi. Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati 20 tahun gerakan Reformasi, pada Jum’at (25/5/2018).

Ketua Bem Unpi Nandi Fathurrahman menjelaskan, kegiatan berlangsung mulai pukul 17.00 hingga 18.30, yang diisi dengan menonton film “Tragedi Jakarta 1998”, dan dilanjutkan dengan diskusi bersama Doddie Faraitody Teguh sebagai salah satu dari ribuan mahasiswa yang turut serta pada aksi tahun 1998 di Jakarta. Saat ini Doddie menjabat sebagai Wakil Rektor 2 di Unpi.

“Setiap tanggal 20 Mei diperingati sebagai hari reformasi, kebetulan Unpi baru hari ini ngadain,” jelasnya.

Nandi menerangkan, peringatan hari Gerakan Reformasi tersebut sebagai pernyataan, bahwa para mahasiswa  harus mengetahui dan mengerti akan perjuangan bagi rakyat Indonesia dari para seniornya terdahulu. Hal ini dibutuhkan karena masih terdapat cita-cita reformasi yang dirasa belum tercapai seperti bersihnya pemerintahan dari KKN (Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme) dan tegaknya supremasi hukum.

“Itulah alasannya kenapa semangat reformasi harus tetap digaungkan. Perjuangan reformasi harus dilanjutkan oleh para mahasiswa dan pemuda-pemudi di zaman sekarang,” terangnya.

Nandi mengharapkan, kegiatan tersebut menjadi pembangkit semangat pergerakan mahasiswa, agar tetap tidak hanya mengejar pelajaran dan nilai yang tinggi. Namun juga menjadi tangan kanan masyarakat dan penyambung lidah masyarakat. Terlebih lagi agar para mahasiswa dapat mengisi waktu kuliahnya dengan hal-hal yang membangun kualitas hidup dirinya dan masyarakat.

“Semoga mahasiswa menyadari tugas mereka tersebut, agar tidak menjadi mahasiswa yang kuliah-pulang saja. Harapan lebihnya mampu  menyadari pentingnya sebuah kajian, diskusi, literasi dan peka terhadap kondisi lingkungannya,” pungkasnya. (Gita Hanifa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco