Gigih Mensyiarkan Agama Islam ditengah Keterbatasan Ruangan

oleh
Foto: Asep Hendrayana/ waktunews.com,
Ustad Ceceng disamping Musola kecil tempatnya mengajar ngaji 50 santri setiap hari. Dirinya berharap agar ada bantuan untuk merenovasi musola hingga cukup ruangan untuk kegiatan belajar ngaji Al Qur’an.

CIBEBER  –   Ustadz Aceng (38) seorang guru ngaji di Musola Nurul Hidayah warga Kampung Opang RT 03/01 Desa Sukamanah Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur, tetap gigih dalam mensyiarkan agama islam. Ia setiap sore menjelang buka puasa tanpa pamrih mengajar para santrinya..

Dengan segala keterbatasan, sudah hampir 12 tahun ia selalu semangat memberikan ilmu kepada santri – santrinya di Musola yang cuma berukuran 5 meter x 9 meter itu. Hanya berbekal  kesungguhan dalam mengajarlah yang membuat dirinya yakin bisa menghantarkan anak didinya pintar mengaji.

“Alhamdulilah saya mengajar ngaji anak – anak di musola ini. Dan saya  juga sangat bersyukur dijaman sekarang masih ada anak – anak yang mau diajarkan nagji,” ujar Ceceng.

Ceceng merasakan miris melihat anak jaman sekarang. Dimana anak – anak dari usia 15 tahun kebawah maianan sudah gadzet. Sehingga malas pergi ke mesjid, terlebih belajar ngaji alquran.” Tetapi di Kampung saya ini Alhamdulilah, anak – anak dari habis Magrib sampai Isya, mereka terus digembleng Al Qur’an. Ilmu Tajwid, Qiroat, Juz Ama, dan ilmu fikih,” tutur Ceceng.

Namun sekarang, ceceng mulai mengeluhkan kondisi Musola yang sudah tidak muat lagi menampung para murid mengajinya. Pasalanya, santrinya terus bertambah dari awal 30 orang sekarang hampir 50 orang. Apalagi sekarang Bulan Suci Ramdahan, anak –anak sejak jam 4 sore sudah pada kumpul di musola untuk belajar ngaji.

“Musolanya sempit. Saya mengharapkan adanya bantuan dari para dermawan untuk merenovasi musola kami,” ucapnya.

Sedangkan Kepala Desa Sukamanah, Dede Devina membenarkan bahwa, di wilayahnya masih ada ustadz yang betul – betul ikhlas untuk mengajar anak – anak ngaji alquran. Walaupun kondisi musola tempat belajar nagjinya sangat sempit.

“Setiap hari dipenuhi dengan anak mengaji,”katanya.

Ia mengatakan, pihaknya akan berupaya untuk mencari dana bantuan dari luar anggaran Dana Desa untuk pembangunan musola tersebut. Pasalnya, anggaran tersebut tidak bisa dialokasikan untuk sarana peribadatan.

“semoga saja ada pihak donatur yang mau membantunya untuk pembangunan musola itu,” tutupnya. (Asep Hendrayana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco