Disebut Aliran Sesat di Sukabumi, Santri Gentur Cianjur Meradang

oleh
Foto: Ruslan Ependi/ waktunews.com.
Santri Ponpes Gentur Mang Gawel merasa tersinggung dengan tuduhan tempatnya menimba ilmu sebagai aliran sesat oleh tokoh masyarakat Desa Pangkalan Kecamatan Cikidang Kabupaten Sukabumi. Dirinya bertekad akan membawa persoalan ini ke ranah hukum.

CIANJUR – Salah seorang santri dari Pondok Pesantren (Ponpes) Gentur Warungkondang Cianjur merasa gerah dengan pemberitaan dan penyataan sepihak yang menuduh serta menggambarkan tempatnya menimba ilmu agama sebagai aliran sesat, hanya karena ada sedikit perbedaan amaliyah dalam peribadahan. (18/9/2018).

Deni Sunarya yang akrab disapa Mang Gawel menyatakan bahwa, persoalan di Kampung Tenjojaya dan Ciawitali Desa Pangkalan Kecamatan Cikidang Kabupaten Sukabumi beberapa hari lalu itu, seharusnya tidak terjadi apabila pihak sebagian kecil masyarakat setempat, yang menuduh ajaran Ponpes Gentur sesat, melakukan tabayun secara bersungguh – sungguh terlebih dahulu.

“Mereka main asal tuduh saja tanpa mengerti apa yang dituduhkan. Tidak boleh seperti itu,” ujar Mang Gawel.

Mang Gawel yang juga menyandang gelar Sarjana Hukum dari Unsur Cianjur ini menegaskan, ajaran faham Islam Ala Ahlussunnah Wal Jamaah yang diajarkan oleh pendiri Ponpes Gentur Tahun 1900 an, yakni KH. Muhammad Satibi, maupun putranya KH. Abdullah Hak Nuh (Ang Nuh) hingga Pengasuh Ponpes Gentur sekarang, sama sekali tidak keluar dari pakem ke Islaman.

“Ponpes Gentur tidak mengajarkan faham berbeda selain faham Islam Ala Ahlussunnah Wal Jamaah yang madzhab fiqihnya ikut Imam Syafi’I, akidahnya dari Imam Abu Hasan Alsyari dan Tasyaufnya ikut Imam Ghodzali,” tegasnya.

Menurutnya, apa yang dikatakan orang yang bernama Wawan adalah kebohongan semata. Apalgi sampai mengatakan ajaran Gentur yang menyakatan ngopi lebih baik dari shalat jumat. Baginya Ini merupakan sebuah penghinaan.

“Para alumni Ponpes Gentur ini banyak dan tersebar diseluruh nusantara bahkan dunia. Hal ini karena KH. Muhammad Satibi pernah mengajar juga di Makkah Al Mukkarhamah. Dan mereka jengkel atas tuduhan serta pemberitaan ini,” tukasnya.

Mang Gawel memaparkan, persoalan lainnya disekitar tataran amaliyyah, seperti sholawatan dan pengeras suara juga terlalu dilebih – lebihkan oleh tokoh masyarakat setempat yang bernama Wawan tadi. Sholawatan adalah kecintaan ummat Islam akan jungjungannya, yakni Nabi Muhammad SWA. Sedangkan soal pengeras suara Cuma persoalan sepele.

“lalu tuduhan bahwa Mang Mamay sebagai keluarga besar Gentur disana mengaku – ngaku sebagai cucunda Rosululloh juga bohong belaka. Hal ini didasarkan pada ahklak pengasuh Ponpes Gentur yang jangankan mengaku sebagai cucunda Rosululloh, mengaku sebagai keturunan langsung Mama Satibi atau Mama Nuh saja pada malu,” papar Mang Gawel.

Kenapa si Wawan itu sampai berani menyebut Gentur sebagai aliran sesat ? lanjutnya, ini pencemaran nama baik dan sebuah perbuatan penistaan agama juga bagi keluarga besar Ponpes Gentur warungkondang, Cianjur.

“Kami tidak akan tinggal diam dan akan melaporkannya kepada pihak yang berwajib. Dan untuk pihak media yang memberitakannya, saya harap jangan sepihak juga dalam menyajikan informasi agar tidak menyesatkan masyarakat pembaca,” pungkasnya.  (Ruslan Ependi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco