SMKN 1 Pacet Terapkan Program Zero Rubbish Sebagai Inovasi Pembelajaran

oleh
Foto: Farhaan Muhammad Ridwan/ waktunews.com.
Kepala Sekolah SMKN 1 Pacet Ida Yuniati Surtika bersama anak didiknya menerapkan sistem Zero Rubbish untuk mandayagunakan sampah menjadi serba manfaat dilingkungan sekolahnya.

CIANJUR – Sekolah Menengah Kejuruan Negri (SMKN) 1 Pacet yang beralamat di Jalan Hanjawar – Pacet no 25 Desa Cibodas Kecamatan Pacet terapkan Program Zero Rubbish agar dilingkungannya selalu bersih tanpa sampah. (25/9/2018).

Kepala SMKN 1 Pacet Ida Yuniati Surtika menuturkan, puhaknya mencanangkan hari bebas sampah di lingkungan sekolah dengan program Zero Rubbish, sebagai wujud nyata penerapan pendidikan karakter kepada para anak didiknya. Dalam prakteknya, setiap anak didik, diwajibkan membuang sisa atau bekas makanan, tempat minum serta benda bekas lainnya ke tempat pembuangan sampah yang sudah disediakan.

“Jadi tidak hanya mengandalkan karyawan bagian kebersihan saja. Tapi setiap siswa dan guru, bahkan saya sendiri sebagai kepala sekolah, semua terlibat dalam pengelolaan sampah, hingga sekolah kita menjadi kawasan ramah lingkungan,” tutur Ida..

Ida menjelaskan, dalam penerapan Zero Rubbish, dibentuk beberapa macam kelompok kerja, seperti adanya bank sampah dan komposter (pengomposan). Tugas kelompok bank sampah ini untuk mengelola, menimbang dan mendaur ulang sampah organik maupun non organik.

“Sampah organik nantinya bisa dijadikan bahan baku pembuatan pupuk untuk menyuburkan aneka jenis tanaman,” jelasnya.

Dari pupuk organic yang dikelolanya, lanjut Ida Yuniati Sutika, SMKN 1 Pacet lalu menerapkan sistem sekolah hijau. Disini, setiap ruas lingkungan sekolah dilengkapi aneka jenis tanaman sayur mayur, tanaman hias, dan aneka jenis tanaman lainnya.

Ida lalu mengtakan, untuk sampah non organik seperti plastik kemasan makanan, pihak sekolah mendaur ulangnya menjadi beberapa kerajinan menjadi media untuk menanam aneka jenis tanaman.

“Kami pun membuat vertical garden di setiap sudut ruangan dan lingkungan sekolah. Taman tersebut dibuat atas kreativitas siswa didampingi guru,” katanya.

Untuk siswa yang telat datang ke sekolah, masih kata Ida, diberikan tindakan atau sangsi berupa menanam tanaman, dengan media yang sudah disiapkan seperti gelas bekas air mineral. Sehingga sangsi seperti ini diupayakan membuat siswa untuk lebih disiplin dan kreatif.

“Siswa tersebut pun berkewajiban menjaga tanaman karyanya tersebut agar tumbuh sehat. Ini kami lakukan agar siswa mencintai lingkungan,” pungkasnya. (Farhaan Muhammad Ridwan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco