Bang Ara Tampung Keluhan Masyarakat Petani Penggarap Cianjur

oleh
Foto: Ruslan Ependi/ waktunews.com.
Politisi PDI Perjuangan yang juga Anggota Komisi XI DPR RI Maruarar Sirait menerima keluhan masyarakat petani penggarap yang dikoordinir oleh PPC.

CIANJUR – Politisi PDI Perjuangan Maruarar Sirait yang juga Anggota Komisi XI DPR RI, kembali tampung asrpirasi masyarakat yang tergabung dalam Paguyuban Petani Cianjur (PPC), bertempat di salah satu rumah makan di Jalan Siti Boededar, Kaum Tengah Kecamatan Cianjur. (6/11/2018).

Dalam kesempatan tersebut, Maruarar Sirait yang akrab disapa Bang Ara ini mendengarkan keluh kesah perjuangan masyarakat petani penggarap yang dibantu oleh para aktivis PPC. Termasuk didalamnya percepatan proses Reforma Agraria yang dicanangkan oleh Pemerintahan Presiden Jokowi.

“Saat ini saya sangat simpatik dengan perjuangan kaum tani Cianjur. Tidak mau melebih-lebihkan apalagi menguranginya,” katanya.

Namun saat menerima keluhkan adanya beberapa oknum aparat keamanan negara yang seolah-olah hadir di lokasi lahan garapan atas permintaan pengusaha pemegang Hak Guna Usaha (HGU), Bang Ara kembali melakukan kontak langsung dengan seorang perwira tinggi di institusi yang laporkan petani.

“Hasil pembicaraan kami tadi kan jelas. Secara organisasi, tidak adak ada satupun surat petintah penugasan untuk mengamankan area lahan terlantar dari pemegang HGU itu,” tegasnya.

Sedangkan salah seorang pentolan PPC Etang menyatakan, untuk luas area lahan garapan yang sudah dikuasai petani penggarap mencapai ribuan hektar. Baik itu yang memang seharusnya dimiliki oleh petani karena kesejarahan tanah dan tercatat dalam leter C di desa setempat, maupun lahan HGU yang terlantar lalu digarap oleh masyarakat petani.

“Untuk yang terakhir, ini sesuai dengan Undang-undang pokok Agraia, dimana lahan terlantar itu mempunyai pungsi sosial. Jadi, masyarakat petani penggarap tidak bertindak diruang kosong. Ada payung hukumnya,” jelas Etang.

Sementara Baban (63) warga Desa Cibokor Kecamatan Cibeber mengungkapkan, mayarakat setempat menggarap lahan PT. Harjasari sebagai pemegang HGU karena ditelantarkan seluas ratusan hektar. Akibat dari terlantar itu menimbilkan banyaknya satwa liar yang sangat meresahkan masyarakat, seperti babi hutan yang sampai masuk ke rumah warga, ular piton ataupun hewan berbisa.

“Terlantarnya ini sudah sekitar 20 tahun. Daripada mengundang bahaya, ya masyarakat menggarap lahan tersebut. Dan kondisi sekarang sudah rapi lagi,” katanya.

Baban menjelaskan, masyarakat setempat baru menggarap lahan terlantar itu selama 2 tahun terakhir. Hal ini karena meraka merasa ketakutan oleh ulah pengusaha yang selalu menggunakan aparat negara.

“Dulu, jangankan menggarap lahan, seorang santri ngambil kayu sebesar lengan saja sudah dipidanakan. Begitu juga kalau mau ngarit jukut (nyambit rumput) buat pakan ternak selalu ditakut-takuti,” pungkas Baban. (Ruslan Ependi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco