Category : Opini

OPINI : Memupuk Nilai Toleransi, Guna Mewujudkan Bangsa yang Rukun dan Beradab

OPINI : Memupuk Nilai Toleransi, Guna Mewujudkan Bangsa yang Rukun dan Beradab

Sepanjang sejarah kehidupan umat manusia di muka bumi tidak terlepas dari berbagai macam konflik pertikaian. Pertikaian demi pertikaian di antara umat manusia terjadi karena disebabkan oleh banyak faktor kepentingan, kepentingan demi kepentingan tersebut membuat manusia menjadi satu-satunya makhluk di muka bumi ini yang hidup paling tidak harmonis.

Paisal Anwari (Kabid PAO HMI Cabang Cianjur)

Alam semesta beserta isinya telah diciptakan oleh Tuhan dengan sedemikian harmonisnya. Miliaran bintang dan planet bergerak teratur sesuai dengan jalurnya. Tumbuhan tahu kapan harus merontokkan daunnya untuk menyesuaikan musim, dan hewan buas tidak memangsa buruannya melebihi yang dia perlukan. Hal-hal tersebut memperlihatkan bahwa betapa Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakan kehidupan ini dengan keteraturan.

Manusia adalah makhluk terakhir yang diciptakan oleh Tuhan dan manusia dikaruniai Tuhan dengan begitu istimewanya. Ironisnya, meskipun dengan segala karunia yang telah Tuhan berikan, tidak serta merta membuat manusia memahami arti tujuan penciptaannya. Tuhan mengharapkan manusia dengan segala keunggulannya dapat menjadi penguasa bumi ini, sebagai penjaga dan pelestari apa yang telah Dia ciptakan. Segala hal telah diletakkan di hadapan kaki manusia agar supaya manusia selalu ingat bahwa Tuhan sangat mengasihinya dan diharapkan manusia dapat secara arif serta bijaksana memperlakukannya.

Secuil kisah di atas hendaknya boleh kita renungkan dalam kehidupan sehari-hari agar kita dapat menjadi manusia yang lebih baik. Sebagai manusia modern kita tidak dapat hidup secara individual, kita diwajibkan hidup dalam komunitas masyarakat dan berinteraksi satu sama lain secara rukun dan damai. Jika seluruh alam semesta saja mampu hidup secara harmonis seharusnya manusia juga bisa melakukannya. Namun kenyataannya tidak berkata demikian, manusia cenderung memiliki pola pikirnya sendiri, manusia kerapkali bersitegang satu sama lain dengan berbagai macam latar belakang permasalahan, justru dengan keunggulan yang dimilikinyalah manusia kesulitan untuk menerapkan hidup rukun berdampingan secara harmonis.

Begitu sulitkah bagi manusia untuk bisa mengasihi sesamanya? Sesungguhnya tidak! Pertikaian di antara manusia terjadi karena manusia belum menyadari bahwa musuh sesungguhnya bukan siapa yang ada di hadapannya tetapi musuh sesungguhnya adalah dirinya sendiri. Manusia dengan akal budi serta pikirannya telah sejak lama berusaha menggali kesadaran mereka, memahami tujuan dari penciptaan dirinya. Sebagai makhluk sosial manusia sangat tergantung terhadap satu sama lain, manusia tidak akan bisa bertahan hidup di bumi ini jika mereka hidup secara individual. Seiring proses berjalannya waktu yang membantu manusia menyadari bahwa pertikaian yang terjadi di antara mereka tidak dapat mendatangkan kebahagiaan dan sukacita melainkan mendatangkan dukacita serta kepedihan.

Indonesia sering dilihat sebagai contoh bagaimana masyarakat dengan beragam etnik dan agama bias hidup rukun dengan tanpa memunculkan masalah yang berarti dalam jangka waktu yang cukup lama. Penilaian seperti ini mungkin benar jika melihat potret masyarakat Indonesia pada umumnya yang mementingkan harmoni dan mempunyai toleransi yang cukup tinggi akan perbedaan di antara mereka.Meskipun demikian, penilaian seperti itu sebenarnya tidak sepenuhnya benar, mengingat masyarakat Indonesia sendiri menyadari akan rentannya hubungan di antara mereka dan juga mengalami seringnya konflik yang berlatar belakang agama.

Oleh karena itu, membangun kerukunan umat beragama telah lama menjadi perhatian dan upaya pemerintah,karena hubungan antarumat beragama di Indonesia bukan saja sering memunculkan masalah tetapi juga telah menimbulkan konflik berkepanjangan. Klimaks dari hubungan yang tidak baik antara pemeluk agama di Indonesia ini adalah terjadinya konflik SARA di Ambon dan Poso yang dinilai banyak orang sebagai konflik berlatar belakang agama, yakni antara pemeluk Islam dan Kristen. Konflik-konflik ini dikatakan sebagai konflik agama, karena bukan rahasia lagi bahwa kalangan yang terlibat di dalamnya telah memakai bendera agama masing-masing dan menegaskan adanya kepentingan agama yang mengiringi perjuangan mereka.

Hal lainnya adalah lemahnya pengawasan oleh pemerintah terhadap perkembangan agama di Indonesia. Pemerintah pada masa Orde Baru, misalnya, kurang memperhatikan pola-pola dakwah keagamaan yang dilakukan oleh beragam pemeluk agama yang ada. Aparat pemerintah tidak mempunyai kepedulian terhadap kemungkinan kerusuhan yang di-timbulkan oleh lalainya mereka dalam mengawasi pola pengembangan agama di daerahnya. Meskipun sudah banyak kasus terjadi, aparat di bawah kurang memahami apa yang harus mereka lakukan, sehingga ketika suatu pelanggaran terjadi dan memunculkan masalah mereka tidak dapat mengatasinya karena hal itu di luar pengetahuan mereka. Bahkan bisa dikatakan bahwa dalam beberapa kasus terdapat aparat pemerintah yang kelihatan kurang peduli dengan perkembangan keagamaan di daerah mereka, sementara dalam beberapa kasus lainnya mereka justru terlihat terlibat dalam pengembangan agama tertentu di daerahnya. Jadi dalam hal ini mereka bukan saja tidak membantu meningkatkan kerukunan antarumat beragama di daerahnya, bahkan memihak terhadap pengembangan agama tertentu.

Keadaan seperti itu tentu saja tidak menguntungkan bagi persatuan dan kesatuan sebagai bangsa, sebab perpecahan bukan saja akan menghambat pembangunan pada umumnya. tetapi juga menghilangkan semangat untuk membangun itu sendiri. Ini berarti bahwa ketahanan nasional di bidang agama akan menurun, yang dapat berakibat pada melemahnya persatuan sebagai bangsa. Konflik antara Islam dan Kristen ini akhirnya bersifat laten, yang bisa muncul lagi setiap saat dimasa mendatang. Situasi ini bahkan dikhawatirkan akan lebih memburuk, mengingat di antara pemeluk kedua agama tersebut telah muncul orang-orang yang sangat radikal dan fanatik. Dengan adanya keadaan seperti ini bukan saja pemantauan oleh pemerintah harus dilakukan tetapi juga upaya menurunkan ketegangan dengan menumbuhkan sikap tasamuh (toleran) harus dilakukan oleh para pemimpin agama.

Kerukunan dalam kehidupan dapat mencakup 4 hal, yaitu: Kerukunan dalam rumah tangga, kerukunan dalam beragama, kerukunan dalam masyarakat, dan kerukunan dalam berbudaya. Indonesia yang sangat luas ini terdiri dari berbagai macam suku, ras, dan agama serta sangat rawan akan terjadinya konflik pertikaian jika seandainya saja setiap pribadi tidak mau saling bertoleransi. Oleh karena itu marilah dimulai setiap dari kita bersedia berkomitmen untuk mau mengusahakan kehidupan bermasyarakat yang rukun dan damai. Ciptakanlah tri kerukunan umat beragama, yang mencakup: Kerukunan internal umat beragama, kerukunan antar umat beragama, dan kerukunan antara umat beragama dengan pemerintah. Jika kerukunan di antara umat beragama dapat terjalin dengan baik tidak hanya masyarakat yang harmonis tapi negara juga akan aman.

Kerukunan dapat dimulai di dalam keluarga kita masing-masing Ciptakanlah tolerensi di antara sesama anggota keluarga karena jika di dalam setiap keluarga tolerensi dapat terjalin dengan baik, imbasnya dapat dirasakan dalam kehidupan masyarakat.

Mengupayakan kerukunan dalam bermasyarakat adalah tanggung jawab setiap orang Nilai-nilai serta norma-norma beretika dalam bermasyarakat perlu ditanamkan sejak seseorang masih kecil. Saling menghormati, menghindari menggunakan perkataan kasar yang dapat menyinggung perasaan orang lain adalah salah satu cara yang dapat kita lakukan agar kita bisa bermasyarakat dengan baik. Kerukunan dalam berbudaya Leluhur bangsa Indonesia adalah orang-orang yang arif serta bijaksana. Budaya serta tradisi dibuat agar kehidupan dalam masayarakat semakin lengkap. Karena sifat kemajemukan budaya bangsa Indonesia yang beraneka ragam, maka kerukunan dalam berbudaya juga perlu diperhatikan. Lain ladang lain belalang, lain daerah lain pula budayanya. Oleh karena itu jika kita bepergian ke suatu tempat yang memiliki budaya yang sangat berbeda dengan budaya dari mana kita berasal, maka sudah kewajiban kita dengan senang hati untuk menghormati serta mengikuti budaya setempat tersebut.

Indonesia adalah negara yang memiliki keunikan tersendiri di dalam membangun, memelihara, membina, mempertahankan, serta memberdayakan kerukunan bermasyarakat. Upaya-upaya yang berkaitan dengan kegiatan kerukunan masyarakat tersebut merupakan sebuah proses tahap demi tahap yang harus dilalui secara terus menerus agar perwujudan kerukunan bermasyarakat benar-benar dapat tercapai. Di samping itu, kerukunan juga merupakan upaya terus-menerus tanpa henti dan hasilnya tidak diperoleh secara instan.

Kerukunan Hidup Umat Beragama, berarti perihal hidup rukun yaitu hidup dalam suasana baik dan damai, tidak bertengkar; bersatu hati dan bersepakat antar umat yang berbeda-beda agamanya; atau antara umat dalam satu agama. Dalam terminologi yang digunakan oleh Pemerintah secara resmi, konsep kerukunan hidup beragama mencakup 3 kerukunan. yaitu : kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat yang berbeda-beda agama, dan kerukunan antara (pemuka) umat beragama dengan Pemerintah.

Upaya mewujudkan kerukunan hidup beragama tidak ter¬lepas dari faktor penghambat dan penunjang. Faktor peng¬hambat kerukunan hidup beragama selain warisan politik penjajah juga fanatisme dangkal, sikap kurang bersahabat, cara-¬cara agresif dalam dakwah agama yang ditujukan kepada orang yang telah beragama, pendirian tempat ibadah tanpa meng¬indahkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan pengaburan nilai-nilai ajaran agama antara suatu agama dengan agama lain; juga karena munculnya berbagai sekte dan faham keagamaan kurang¬nya memahami ajaran agama dan peraturan Pemerintah dalam hal kehidupan beragama. Faktor-faktor pendukung dalam upaya kerukunan hidup beragama antara lain adanya sifat bangsa Indonesia yang religius, adanya nilai-nilai luhur budaya yang telah berakar dalam masyarakat seperti gotong royong, saling hormat menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya, kerja¬sama di kalangan intern umat beragama, antar umat beragama dan antara umat beragama dengan Pemerintah.

Pada zaman kemerdekaan dan pembangunan sekarang ini, faktor-faktor pendukung adalah adanya konsen¬sus-konsensus nasional yang sangat berfungsi dalam pembinaan kerukunan hidup beragama, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Peraturan Perundang-undangan yang berlaku di bidang atau yang berkaitan dengan kerukunan hidup beragama. Dari segi Pemerintah, upaya pembinaan kerukunan hidup beragama telah dimulai sejak tahun 1965, dengan ditetapkan¬nya Penpres Nomor 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama yang kemudian di¬kukuhkan menjadi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969. Pada zamam pemerintahan Orde Baru, Pemerintah senantiasa memprakarsai berbagai kegiatan guna mengatasi ketegangan dalam kehidupan beragama, agar kerukunan hidup beragama selalu dapat tercipta, demi persatuan dan kesatuan bangsa serta pembangunan. Untuk itu mari kita pupuk rasa toleransi kita untuk mewujudkan bangsa yang rukun dan beradab.

Perlunya Undang-undang Tentang Larangan Merokok Saat Mengendarai

Perlunya Undang-undang Tentang Larangan Merokok Saat Mengendarai

Oleh : Yudi (Wasekum PA HMI Cabang Cianjur)

Sudah kita ketahui semua, bahwa merokok dapat menimbulkan penyakit bagi organ tubuh manusia. Semua orang tahu persis bahaya merokok, tetapi hal ini tidak membuat para perokok serta-merta berhenti merokok. Selain itu, tidak hanya perokok aktif yang mendapatkan efek negatif rokok. Perokok pasif yang terkena asapnya saja bisa mendapatkan efek dari rokok yang membahayakan itu.

 

Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf: 157 yang artinya : “Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk”. Hal tersebut bahwa rokok salah satu barang yang buruk dan merusak bagi kesehatan dan diharamkan.

Lebih berbahaya lagi ketika para perokok aktif ini merokok sambil mengendarai baik pengguna motor ataupun mobil, karena membahayakan diri dan pengendara yang lain. Ketika abu rokok terbang terbawa angin sudah pasti abu rokok tersebut ke belakang pengendara yang lainnya dan itu pernah saya alami, mata saya terkena abu rokok dan pihak pemerintah harus cepat-cepat mengeluarkan undang-undang larangan merokok sambil mengendarai.

Karena dalam undang-undang tentang lalu lintas Pasal 283 siap menjerat dengan bunyi : Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di jalan sebagai diatur dalam Pasal 106 ayat 1 dipidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda Rp 750.000.

Menambahkan undang-undang larangan merokok saat mengendarai adalah salah satu jalan keluar terjadinya kecelakaan bagi pengendara dan pengendara yang lainnya, serta undang-undang larangan merokok sambil mengendarai sudah diterapkan oleh pemerintah inggris.


referensi : http://www.akriko.com/2015/09/mulai-1-oktober-2015-dilarang-merokok.html

OPINI : Idul Adha dan Refleksi Diri

OPINI : Idul Adha dan Refleksi Diri

    Idul Adha adalah momentum terbesar kepasrahan manusia (muslim) terhadap Alloh SWT yang direpresentasikan melalui penyembelihan hewan kurban. Momentum penyembelihan hewan kurban menjadi sebuah refleksi atas ketabahan Nabi Ibrahim dengan kerelaan serta kesungguhan hatinya, yang bersedia mengorbankan putranya Ismail untuk Allah. Meskipun akhirnya digantikan oleh Allah SWT dengan seekor domba.

Oleh : Lilis Nuraeani

        Idul Qurban mengambil cermin kehidupan tiga manusia yang beriman sempurna yaitu Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail. Mereka adalah manusia-manusia kamil yang taat dan tunduk kepada perintah Alloh SWT tanpa adanya kesangsian.

       Idul Adha atau lebaran haji merupakan simbol kekuatan islam itu sendiri. Idul Adha memberikan gambaran tentang betapa kuatnya ideologi dan sejarah. Ritual ibadah haji terus diikuti, dilaksanakan sampai dengan abad modern ini. Tetap berlangsung, tidak tergerus oleh teknologi dan perubahan zaman. Karena sejatinya ibadah haji merupakan substansi dari pengejawantahan kehidupan manusia untuk merefleksikan dirinya agar menjadi lebih baik menuju insan kamil.

         Ibadah haji mengantarkan manusia kepada pengalaman kemanusiaan yang universal, sebab haji dan umrah menyampaikan pesan persamaan kemanusiaan. Dalam ibadah umrah sebagai puncak ibadah haji muslim mengenakan pakaian seragam yaitu pakaian ihram yang putih sebagai lambang kerendahan hati. Pakaian ihram mencerminkan bahwa manusia dengan manusia lainnya di hadapan Alloh adalah setara. Tiada yang berhak mengklaim dirinya lebih dari manusia lainnya, kecuali dalam pencapaian penyerahan dirinya (ketaqwaannya).

       Dari tahun ke tahun masyarakat Indonesia yang religius berbondong-bondong menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Antusiasme muslim Indonesia pergi ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji tidak pernah surut, tetap tinggi bahkan semakin membludak. Bertahun-tahun menunggu kuota haji yang memakan waktu begitu panjang. Menurut data di Kabupaten Cianjur saja, harus menunggu sekitar 10-12 tahun untuk dapat menunaikan ibadah haji.

         Keadaan ini mencerminkan betapa momen indah ibadah haji merupakan cita-cita sejati setiap muslim. Kerinduan yang mendalam terhadap sang Khalik tercipta dalam manifestasi kesempurnaan ibadah sebagai muslim setelah shahadat, shalat, puasa, dan membayar zakat. Apabila dilapangkan rezeki dan kesehatannya, setiap umat islam berharap pergi ke tanah suci sebelum ajal menjemput.

         Ibadah haji merupakan penyerahan diri manusia secara mutlak kepada Alloh. Mengembalikan diri kepada Alloh, berpulang keharibaan Alloh untuk menuju kesempurnaan mengusung nilai-nilai kemanusiaan, dan keadilan. Ibadah haji merupakan suatu simbol yang memberikan fakta bahwa Islam mempunyai kekuatan yang besar yaitu ideologi juga sejarah.

Refleksi Diri

        Penyembelihan hewan kurban memberikan makna yang mendalam mengenai implementasi iman yang sesungguhnya, yaitu mengharap ridha ilahi demi terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang selama ini terabaikan. Melalui penyembelihan hewan kurban kita diingatkan untuk selalu bergandengan tangan memperkuat kepedulian dan empati terhadap yang kekurangan. Penyembelihan hewan kurban pada Idul Adha ini setidaknya ada kontribusi mengentaskan kemiskinan, dan mestinya terus diupayakan lewat upaya-upaya nyata yang berkelanjutan tidak hanya saat Idul Adha saja.

      Idul qurban adalah adalah salah satu bentuk perwujudan masyarakat adil makmur yang dicita-citakan semua elemen lingkungan sosial masyarakat. Momen Idul Qurban adalah tindakan nyata untuk menyadarkan kita semua bahwa kepedulian harus terus dibangun untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi lingkungan.
Melalui ritual penyembelihan hewan kurban, umat manusia diajak untuk semakin peka terhadap lingkungan sosial serta peduli pada nasib fakir–miskin serta kaum yang lemah. Kita berlomba-lomba untuk melaksanakan kebaikan, menggalakkan aksi solidaritas sosial kebangsaan dan keumatan. Sehingga niscaya terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhai oleh Allah SWT.

      Dalam era modern ini Idul Qurban dimanifestasikan dalam dua kontkes namun sinergi, satu sama lainya tak dapat dipisahkan, yaitu hubungan antara makhluk dengan sang pencipta mengenai loyalitas penghambaan diri seutuhnya kepada Yang Maha Kuasa tanpa adanya kesangsian atas perintahNya. Kemudian dalam makna yang lebih luas, yaitu pendekatan kemanusiaan, untuk membina kepedulian, dan kasih sayang terhadap sesama yang ditengarai mulai luntur oleh rasa individualistis.

      Dari perjalanan sejarah ritual Idul Qurban ini umat dapat mengambil manfaat yang sebanyak-banyaknya terhadap seluruh aspek kehidupan manusia.


*Penulis adalah seorang pendidik di SMPN 1 Cianjur. Menulis opini, esai, puisi, dan cerpen di beberapa media online dan cetak.

Kunjungan Sekjend Partai Komunis Vietnam (Y. M. Tuan Nguyem Phu Trong) ke Indonesia, Akan Mengancam Idelogi Bangsa

Kunjungan Sekjend Partai Komunis Vietnam (Y. M. Tuan Nguyem Phu Trong) ke Indonesia, Akan Mengancam Idelogi Bangsa

Oleh : Faisal Anwari

Komunisme adalah sebuah ideologi. Penganut paham ini berasal dari Manifest der Kommunistischen yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, sebuah manifesto politik yang pertama kali diterbitkan pada 21 Februari 1848, teori mengenai komunis sebuah analisis pendekatan kepada perjuangan kelas (sejarah dan masa kini) dan ekonomi kesejahteraan yang kemudian pernah menjadi salah satu gerakan yang paling berpengaruh dalam dunia politik.

Komunisme pada awal kelahiran adalah sebuah koreksi terhadap paham kapitalisme di awal abad ke-19, dalam suasana yang menganggap bahwa kaum buruh dan pekerja tani, hanyalah bagian dari produksi dan yang lebih mementingkan kesejahteraan ekonomi. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, muncul beberapa faksi internal dalam komunisme antara penganut komunis teori dan komunis revolusioner yang masing-masing mempunyai teori dan cara perjuangan yang berbeda dalam pencapaian masyarakat sosialis untuk menuju dengan apa yang disebutnya sebagai masyarakat utopia.

Indonesia pernah menjadi salah satu kekuatan besar komunisme dunia. Kelahiran PKI pada tahun 1920an adalah kelanjutan fase awal dominasi komunisme di negara tersebut, bahkan di Asia.

Dampak Peristiwa G30S/PKI 1965 yang terjadi di indonesia telah memberi dampak negatif dalam kehidupan sosial dan politik masyarakat indonesia, G30S/PKI yang kita ketahui ingin mengkudeta pemerintahan Indonesia dan mengganti ideologi negara yaitu pancasila menjadi komunis, yang sangat ditentang oleh rakyat Indonesia, di dalam memuluskan tujuannya mereka melakukan apa saja termasuk membunuh para TNI AD dan merenggut banyak nyawa serta melakukan berbagai pemberontakan di berbagai wilayah di Indonesia, tetapi hal tersebut dapat ditumpas dan PKI dihanguskan. Dari pergerakan tersebut PKI membawa berbagai dampak Negatif dalam kehidupan sosial dan politik seperti di bawah ini

  1. Dampak Politik
  2. Presiden Soekarno kehilangan kewibawaannya di mata rakyat Indonesia.
  3. Kondisi politik Indonesia semakin tidak stabil sebab muncul pertentangan dalam lembaga tinggi negara.
  4. Sikap pemerintah yang belum dapat mengambil keputusan untuk membubarkan PKI sehingga menimbulkan kemarahan rakyat.
  5. Munculnya aksi demonstrasi secara besar-besaran yang dilakukan rakyat beserta mahasiswa yang tergabung dalam KAMI, KAPPI, dan KAPI menuntut pembubaran terhadap PKI beserta ormas-ormasnya.
  6. Pemerintah mengadakan reshuffle (pembaharuan) terhadap Kabinet Dwikora menjadi Kabinet Dwikora yang disempurnakan dengan ditunjuknya kabinet yang anggotanya seratus menteri sehingga dikenal dengan Kabinet Seratus Menteri. Akan tetapi, pembentukan kabinet tersebut ditentang oleh KAMI dan rakyat banyak, sebab dalam kabinet tersebut masih dijumpai menteri-menteri yang pro-PKI sehingga mereka melakukan aksi ke jalan dengan mengempeskan ban-ban mobil para calon menteri yang akan dilantik. Aksi tersebut menewaskan seorang mahasiswa yang bernama Arif Rahman Hakim. Kematian Arif Rahman Hakim tersebut mempengaruhi munculnya aksi demonstrasi yang lebih besar, yang dilakukan mahasiswa dan para pemuda Indonesia di Jakarta maupun di daerah-daerah lainnya.
  7. Pada tanggal 25 Februari 1966, Presiden Soekarno membubarkan KAMI sebab dianggap telah menjadi pemicu munculnya aksi demonstrasi dan turun ke jalan yang dilakukan oleh para pemuda Indonesia dan mahasiswa Indonesia.
  8. Pada tanggal 11 Maret 1966 diselenggarakan sidang kabinet yang ingin membahas kemelut politik nasional. Namun sidang ini tidak dapat diselesaikan dengan baik karena adanya pasukan tak dikenal yang ada di luar gedung yang dianggap membahayakan keselamatan Presiden Soekarno.
  9. Pada tanggal 11 Maret 1966, Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret atau yang dikenal dengan istilah Supersemar, yang isinya Presiden Soekarno memberi perintah kepada Letnan Jenderal Soeharto untuk mengambil tindakan yang dianggap penting dan perlu, agar terjamin keamanan dan ketertiban, jalannya pemerintahan dan jalannya revolusi, serta menjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Presiden.

Y. M. Tuan Nguyem Phu Trong

  1. Dampak Ekonomi

Di Bidang Ekonomi, Peristiwa G30S/PKI telah menyebabkan akibat yang berupa inflasi yang tinggi yang diikuti oleh kenaikan harga barang, bahkan melebihi 600 persen setahun. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah mengeluarkan dua kebijakan ekonomi yaitu :

  1. Mengadakan devaluasi rupiah lama menjadi rupiah baru yaitu Rp. 1000 menjadi Rp.100
  2. Menaikan harga bahan bakar menjadi empat kali lipat, tetapi kebijakan ini menyebabkan kenaikan harga barang yang sulit untuk dikendalikan

Terkait dengan rencana kunjungan ini Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam atau Communist Party of Vietnam (CPV) Nguyen Phu Trong akan mengunjungi Indonesia pada akhir Agustus 2017. Ini akan menjadi kunjungan pertama petinggi partai berkuasa di Vietnam itu ke Indonesia. Rencana kunjungan Sekjen CPV ke Indonesia tersebut dikonfirmasi oleh Deputi Perdana Menteri Vietnam Vuong Dinh Hue usai melakukan pertemuan bilateral dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (21/7). “Kedua pihak secara aktif sedang mempersiapkan kunjungan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam, Bapak Nguyen Phu Trong, pada akhir Agustus tahun ini, yang bertujuan untuk mempererat kemitraan strategis kedua negara kita di segala bidang,” kata Deputi PM Vuong melalui penerjemah.

Deputi PM Vuong juga berterima kasih atas konfirmasi Presiden Joko Widodo untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pemimpin Ekonomi APEC di Danang, Vietnam, November 2017.

“Kami menantikan kunjungan Presiden Indonesia ke Vietnam untuk menghadiri pertemuan pemimpin ekonomi APEC di Danang, November tahun ini,” tuturnya.

Hasil pertemuan bilateral Wapres Jusuf Kalla dan Deputi PM Vuong, utamanya terkait masalah kemaritiman, yakni patroli bersama, pemberantasan penangkapan ikan ilegal, dan administrasi perbatasan.

Ada apa dengan rencana kunjungan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam pada akhir Agustus ini ke Jakarta? Adakah upaya untuk membawa lebih dalam lagi orientasi luar negeri rezim Jokowi ke negara-negara basis komunis?

Terkait dengan adanyanya rencana kunjungan Sekjend Partai Komunis Vietnam ke Indonesia, kami dari Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Cianjur memberikan pandangan dan menolak kunjungan tersebut dengan alasan :

  1. Karena mengancam kestabilan idelogi bangsa, yakni Pancasila sebagai cita-cita dan hasil perjuangan para pahlawan
  2. Gejala meningkatnya kecenderungan orientasi luar negeri rezim Jokowi ke negara komunis seperti China dan kini ditambah Vietnam, menimbulkan tanda tanya sekaligus kecememasan
  3. Karena Ikatan ekonomi Indonesia dengan China menimbulkan kegerahan di tanah air dan berefek kepada kestabilan ekonomi Indonesia ditambah lagi kerjasama ikatan ekonomi dengan Vietnam, Terkait perbatasan, Indonesia dan Vietnam masih memiliki perundingan batas wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang belum selesai setelah pertemuan terakhir pada 27 April 2017 di Yogyakarta.
  4. Mengancam kondisi keamanan dan pertahanan Bangsa Indonesia.

Tentu pandangan serta penilaian kami merupakan hasil analisis pemikiran kami, dengan kecintaan kami terhadap bangsa Indonesia ini yang mana cita-cita tertinggi adalah kedaulatan rakyat, kesejahteraan dan menjungjung tinggi nilai ideologi bangsa yakni Panca Sila, yang tak mudah untuk digantikan dengan ideologi lain seperti Ideologi komunis dengan sejarah memberikan catatan betapa besar kerugian yang diakibatkan sejarah G30S-PKI pada kestabilan pertahanan dan keamanan bangsa ini.


*Faisal Anwari, Kabid PAO HMI Cabang Cianjur

Memaknai Kelahiran Pancasila

Memaknai Kelahiran Pancasila

Oleh : Ismat Nasrulloh

Pancasila sebagai ideologi negara kini teromabng-ambing bagaikan kapal di hadapan badai gelombang mengancam, kita lihat bersama perkembangan hari ini pancasila seolah dihantam dengan berbagai idologi lainnya baik idologi pengaruh kanan maupun idologi kiri. Namun lahirnya pancasila adalah sebuah keharusan untuk Negara Indonesia sebagai pemersatu bangsa.

Seakan sulit bagimana untuk dia terleps dari berbagai hantaman badai yang mendera. Pilihannya hanya ada dua, pancasila menjadi catatan sejarah dan hanya pilar yang pada kenyataannya hanya menjadi cerita mistri seprti armada kapal titanic yang tertelan oleh lautan. Atau pancsila dapat tetap kokoh oleh persatuan dan kesatuan bangsa.

Pancasila terlahir di tengah cita-cita bangsa yang menginginkan kebersatuan dalam keberagaman, dalam kondisi itu para bangsawan berpikir bagaimana mencapai cita-cita yang mutlak dalam mempersatukan negara yang berdaulat, dan menjadi sebuha bangsa yang seutuhnya.

Diawali pidato Ir. Soekarno pad tanggal 1 Juni 1945, dengan mecetuskan lahirnya pancasila, kemudian ditindaklanjuti oleh rumusan dari Muhammad Yamin, yang tertuang pada piagam Jakarta pada tanggal 22 Juli 1945, yang ditindaklanjuti oleh panitia Sembilan yang merumuskan falsafah negara yang kemudian disetujui oleh BPUPKI, Pancasila resmi menjadi falsafah bangsa Indonesia dan menjadi ideology negara murni yang terlahir dari rumusan para Founding Father Indonesia pada tanggal 18 Agustus 19945 pancasila satusatunya ideology dan dasar negara yang menjadi pandangan hidup rakyat Indonesia, pegangan hidup dan landasan hidup bangsa Indonesia.

Pancasila Dalam Amalan Bernegara

Akankah pancasila menjadi sebuah ideology yang diamalkan oleh segenap bangsa, bukan hanya pilar bangsa, akan tetapi menjadi ruh gerakan setiap bangsa, setiap sendi kehidupan yang seyogyanya harus sesuai dengan norma pancasila, secara ekonomi, sosial dan politik jelas hars sesuai dengan pancasila.

Sudah saat nya bangsa ini mengamalkan apa yang tertuang dalam sila-sila pancasila. Manusia yang berketuhanan, manusia yang adil dan beradab, manusia yang bersatu dalam perbedaan, manusia yang bisa memimpin setiap keputusannya sendiri dengan kekuatan kepemimpinan seperti hakikat nya manusia, dan manusia yang sejahtera.

Dan ketika manusia itu mampuh menjadi seseorang yang pancasilais dengan tanpa di ucapkan tetapi dengan amalan maka manusia pancasila sudah barangtentu harus dengan tanpa sadar berhaluan pancasila dalam kehidupan nyata, bukan hanya hayalan.

Jadilah Indonesia Yang Seutuhnya…!!!

 

Sastra, Budaya dan Intelektualitas Pengarang

Sastra, Budaya dan Intelektualitas Pengarang

Oleh: Fachru Rozi

Sastra merupakan kegiatan kreatif yang mampu melahirkan sebuah karya seni. Hakikat karya sastra dapat ditinjau dalam kerangka komunikasi karya sastra secara menyuluruh, yaitu pengarang-karya sastra-budaya-pembaca. Lagi pula, pada dasarnya karya sastra adalah hasil dari pekerjaan seni yang memerlukan sebuah proses kreatif yang terbagi atas perenungan, pengendapan ide, pematangan, dan langkah-langkah tertentu yang diterapkan oleh pengarang terhadap karya sastranya. Maka proses kreatif yang diterapkan  oleh Ahmad Tohari akan berbeda dengan yang dilakukan oleh Ramadhan K.H, Ajib Rosidi, A.A Navis, Putu Wijaya, Chairun Harun, Hasan Al-Banna, Sartika Sari atau Yulhasni. Karya sastra memerlukan bakat, intelektualitas dan wawasan kesusasteraan.

Terlepas dari bakat dan wawasan kesusasteraan tersebut, intelektualitas adalah sebuah pemikiran yang terbungkus dalam bentuk khusus. Jadi dapat dikatakan bahwa karya sastra diciptakan untuk mengungkapkan pemikiran-pemikiran hebat. Hal ini tidak terlepas dari anggapan bahwa karya sastra adalah dokumen sejarah pemikiran dan filsafat, karena sejarah sastra sejajar dengan sekaligus mencerminkan sejarah pemikiran. Secara langsung atau melalui alusi-alusi dalam karyanya, seorang pengarang tentu menganut aliran filsafat tertentu, mempunyai hubungan dengan paham-paham yang domain pada zamannya, atau paling tidak mengetahui garis besar ajaran paham-paham tersebut yang tertumpah dalam setiap karya sastranya.

Namun, bila ditinjau lebih jauh, pengaruh paling besar yang diterima oleh sebuah karya sastra adalah budaya yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Hal ini menjurus pada intelektualitas pengarang yang sudah semestinya sesuai dengan pemikiran-pemikiran dalam kehidupan masyrakat. Sebab bagaimanapun masyarakat memiliki peranan penting sebagai penikmat sekaligus penilai dari sebuah karya sastra. Selain itu, Sapardi (1979: 1) memaparkan bahwa sastra itu adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium. Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan social.

Respon estetik yang diberikan oleh budaya melalui perantara masyarakat terhadap sebuah karya sastra adalah satu-satunya alasan pengarang agar karya sastranya dapat diterima dengan baik. Maka berdasar hal tersebut sudah dapat dipastikan bahwa intelektualitas pengarang mengenai sastra mesti berbanding dengan budaya yang sedang berkembang dalam kehidupan masyarakat tertentu.

Untuk meyakinkan hal tersebut kita bisa bertolak dari karya-karya W.S Rendra yang memang hampir keseluruhan puisi-puisinya menggambarkan seperti apa kondisi dan situasi budaya yang berlaku dalam masyarakat ketika itu, termasuk seperti puisi “Diponegoro” karya Chairil Anwar, dan berikut juga novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” karya Hamka yang menggambarkan begitu apiknya budaya masyarakat Padang.

Semua karya sastra tersebut dinilai memenuhi dan merangkum konsep pemikiran masyarakat yang berlaku saat itu. Sehingga karya sastra tersebut mampu melesap begitu jauh ke dalam kehidupan masyarakat yang memiliki fungsi estetikator bagi sebuah karya sastra. Maka dari itu keintelektualitasan pengarang tidak akan bisa terlepas dari budaya yang juga berperan penting sebagai patokan utama untuk menyatakan bahwa karya sastra tersebut dapat dikatakan bakal berkembang dalam kehidupan masyarakat atau tidak sama sekali.

Nah, kalau kita sedikit menyentil ke arah karya sastra yang pada saat ini. Mayoritas pengarang lebih mengarah ke ‘keterbukabebasan’ dalam karya sastranya. Kita (baca: saya) memaknai ‘keterbukabebasan’ di sini adalah yang tidak terikat oleh aturan-aturan yang mengekang seperti dalam pusi lama. Namun tetap saja, semua itu berakar pada keterbukaan lengan-lengan budaya masyarakat guna menerima atau tidaknya sebuah karya sastra. Sekuat apapun intelektulitas pengarang untuk mencurah imajinasi ke dalam karya sastra jika itu bertolak belakang dengan budaya yang ada dalam masyarakat, tetap saja karya sastra tersebut hanya akan kandas pada sebuah kebakuan makna yang tidak memiliki fungsi apa-apa.

Sebagai contoh, saat ini kita mengetahui bahwa banyaknya sastra-sastra kontemporer yang beredar di berbagai media sosial yang dikenal dengan nama cyber sastra. Karya sastra yang menyimpan bentuk pemikiran atau intelektualitas seseorang yang (bisa jadi) sudah pasti tak sesuai dengan fenomena, ajaran dan budaya yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Sudah barang tentu hal tersebut perlahan-lahan bakal mempengaruhi respon estika karya sasra yang lebih mengarah ke bentuk yang semakin menyimpang.

Jika hal tersebut terus berlanjut, tidak dapat dipungkiri akan terjadi kecederaan dalam tubuh sastra. Bakal berakibat pada semakin senjangnya jarak antara karya sastra dengan kehidupan masyrakat sebab ketidaksesuaian yang terus dilahirkan oleh sastra-sastra kontemporer di berbagai sosial media. Memang, walau bagaimanapun konsep dari karya sastra itu sendiri dikembalikan kepada masyarakat sebagai estetikator terlepas dari kesakralan budaya.

Tapi yang perlu ditanam dalam benak bahwa setiap karya sastra yang dilahirkan dari intelektualitas-intelektualitas hebat pengarang, yang sesuai dengan budaya yang diakui dalam kehidupan masyarakat-selektif-adalah karya sastra yang dapat dikatakan memiliki keestetikaan murni, baik jika dinilai dari budaya masyarakat maupun dari karya sastra itu sendiri.

 

Fachru Rozi. Mahasiswa aktif Sastra Indonesia di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara ini lahir di Tanjung Balai. Menulis esai dan puisi di beberapa media cetak dan online. Sedang bergiat di komunitas menulis, Fokus UMSU. Saat ini berdomisili di Medan, Jalan Pembangunan 1 No. 1 Kecamatan Medan Timur Kelurahan Glugur Darat II.

Opini : Tentang Kepedulian Sosial

Opini : Tentang Kepedulian Sosial

Oleh : Moch Samsu Nurfalah

Kepedulian sosial yaitu sebuah sikap keterhubungan dengan kemanusiaan pada umumnya, sebuah empati bagi setiap anggota komunitas manusia. Kepedulian sosial adalah kondisi alamiah spesies manusia dan perangkat yang mengikat masyarakat secara bersama-sama (Adler, 1927). Oleh karena itu, kepedulian sosial adalah minat atau ketertarikan kita untuk membantu orang lain, membantu antarsesama manusia.

ilustrasi

Lingkungan terdekat kita yang berpengaruh besar dalam menentukan tingkat kepedulian sosial kita. Lingkungan yang dimaksud di sini adalah keluarga, teman-teman, dan lingkungan masyarakat tempat kita tumbuh. Karena merekalah kita mendapat nilai-nilai tentang kepedulian sosial. Nilai-nilai yang tertanam itulah yang nanti akan menjadi suara hati kita untuk selalu membantu dan menjaga sesama. Kepedulian sosial yang dimaksud bukanlah untuk mencampuri urusan orang lain, tetapi lebih kepada membantu dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi orang lain, dengan tujuan kebaikan dan perdamaian, yang memiliki unsur keikhlasan atau kerelaan. Tidak semerta-merta hanya untuk kepentingan atau maksud lain, yang hanya menguntungkan salah satu pihak.

Kepedulian sosial dibagi menjadi 3, yaitu kepedulian yang berlangsung saat suka maupun duka. Kepedulian sosial merupakan keterlibatan pihak yang satu kepada pihak yang lain dalam turut merasakan apa yang sedang dirasakan atau dialami oleh orang lain. Kedua, Kepedulian pribadi dan bersama, yaitu kepedulian bersifat pribadi, namun ada kalanya kepedulian itu dilakukan bersama. Cara ini penting apabila bantuan yang dibutuhkan cukup besar atau berlangsung secara berkelanjutan. Selanjutnya ketiga, adalah kepedulian yang sering lebih mendesak. Kepedulian akan kepentingan bersama merupakan hal yang sering mendesak untuk kita lakukan. Caranya dengan melakukan sesuatu atau justru menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu demi kepentingan bersama.

Beberapa Sumber kepedulian sosial, bisa dirasakan atau diketahui melalui sumber dari ‘cinta’. Kepedulian sosial muncul dari kepekaan hati untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar istilah empati, yang dapat diartikan sebagai kesanggupan untuk memahami dan merasakan perasaan-perasaan orang lain seolah-olah itu perasaan diri sendiri. Sehingga kita akan ikut andil dan berbuat sesuai dengan orang lain alami. Kedua, adapun sumber kepedulian tidak berdasarkan karena macam-macam alasan. Kepedulian sosial yang kita kembangkan adalah kepedulian yang timbul dari hati yang terbuka mau berbagi untuk sesamanya tanpa didorong atau disertai alasan-alasan tanpa meminta imbalan apapun.

Ada beberapa hal yang merupakan hambatan kepedulian sosial, diantaranya adalah “Egoisme”. Egoisme merupakan doktrin bahwa semua tindakan seseorang terarah atau harus terarah pada diri sendiri. Tidak ingin tahu, bahwa dirinyalah yang harus diuntungkan, diperhatikan, diprioritaskan, dikagumi, disanjung, dan selalu ingin menang sendiri dan tidak perduli terhadap orang lain. Ada juga sikap Materialistis. Sikap tersebut merupakan sikap perilaku manusia yang sangat mengutamakan materi sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hidupnya. Demi mewujudkan itu mereka umumnya tidak terlalu mementingkan cara untuk mendapatkannya.

Cara pembentukan sikap dan perilaku kepedulian sosial

  • Mengamati dan Meniru perilaku peduli sosial orang-orang yang diidolakan.
  • Melalui proses pemerolehan Informasi Verbal tentang kondisi dan keadaan sosial orang yang lemah sehingga dapat diperoleh pemahaman dan pengetahuan tentang apa yang menimpa dan dirasakan oleh mereka dan bagaimana ia harus bersikap dan berperilaku peduli kepada orang lemah.
  • Melalui penerimaan Penguat/Reinforcement berupa konsekuensi logis yang akan diterima seseorang setelah melakukan kepedulian sosial.

Moch Samsu Nurfalah, Lulusan FKIP UNSUR Cianjur, aktif di berbagai organisasi sosial. Peminum kopi yang teratur. Kini sedang melakukan riset terkait Humaniora dan Alam di Indonesia. 

HARDIKNAS BUKAN HANYA UNTUK GURU DAN MURID  TAPI JUGA UNTUK ORANGTUA

HARDIKNAS BUKAN HANYA UNTUK GURU DAN MURID TAPI JUGA UNTUK ORANGTUA

Oleh : Muhammad Fajar Firdaus

Hari Pendidikan Nasional atau sering dikenal Hardiknas, adalah hari penghargaan, sosok pahlawan nasional yang selalu kita kagumi dan banggakan, yaitu Ki Hadjar Dewantara. Dengan tekad dan usahanya dalam perjuangan untuk menegakan tiang pendidikan di nusantara ini, hingga ia dijuluki bapak pendidikan.

Muhammad Fajar Firdaus

Pendidikan indonesia memiliki filosofi tut wuri handayani yang berarti “di belakang memberi dorongan”, yang memiliki makna luar biasa bagi guru dan murid. Tetapi saya mengartikannya juga, bahwa filosofi itu bukan hanya berlaku pada guru saja, tetapi juga berlaku untuk orang tua. Sebab saya menilai orang tua memliki andil besar dalam mendidik anaknya dengan ruang waktu yang cukup luas, dengan menciptakan berbagai macam metode seperti menciptakan lingkungan belajar, meluangkan waktu khusus untuk belajar, melakukan pendampingan belajar, dan lain-lain. Peran aktif orang tua harus didukung oleh pola komunikasi pendekatan yang baik dengan anak, hingga anak memiliki daya pandang berbeda antara suasana pendidikan di sekolah dengan di rumah, melalui kemasan- kemasan yang berbeda pula tentunya.

Dalam dunia pendidikan, guru harus pandai dalam melakukan eksplorasi metode yang melibatkan  orang tua, dengan pemanfaatan media sosial atau komunikasi yang secara intens dan langsung, agar tugas dan tingkah anak didiknya bisa terkontrol, baik secara perkembangan nalar atau sikap yang berdampak pada nilai-nilai kehidupan.

Dalam melakukan metode pembelajaran di rumah, orang tua harus meningkatkan kualitas diri mereka agar bisa memahami tugas yang diberikan di sekolah atau guru, bahkan ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan, yaitu membantu anak mengenali dirinya mengenali kelebihan dan kelemahannya, membantu anak mengembangkan potensi sesuai bakat dan minatnya, membantu meletakan pondasi yang kokoh untuk keberhasilan hidup anak dan membantu anak merancang hidupnya sesuai apa yang dikatakan Plato. Arah yang diberikan pendidikan adalah untuk mengawali hidup seseorang dalam menentukan masa depannya.


*Muhammad Fajar Firdaus atau Ajay. Pemerhati sosial dan budaya,  kini menjabat sebagai Ketua Umum HMI Cab. Cianjur.

Menafsir Puisi Adat Dari Rahim Willy Ana

Menafsir Puisi Adat Dari Rahim Willy Ana

Oleh : Ubai Dillah Al Anshori

“Tabot”

Lelaki putih
Perempuan putih
Makin pipih

Laut tak lagi bergelombang
Pantai jadi warna warni
Seperti pasar malam di kota-kota

Tak ada lagi Syeikh Burhannuddin Imam Senggolo itu
Memimpin tetabuhan
Pada bulan muharram

Ia terperosok pada lobang waktu
Menjadi Artefak
Sunyi dan beku

Tak ada lagi Husein bin Ali bin Abi thalib, cucu sang Rosul
Yang gugur di Karbala
Melawan Yasid bin Muawiyah

Bunyi- bunyian dari dol dan tessa
Hilang di tiup angin
Dan suara- suara parau
Perempuan malam
Mendayu membelah malam

Orang-orang laut pulang
Setelah melarungkan sampan kecil
Berisi doa-doa dan kenangan
Ke laut

20 November 2016

(Puisi Willy Ana)

Puisi di atas sejatinya sebagai pengantar tentang Tabot yang ada di Kota Bengkulu. Seperti diketahui Tabot adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu untuk mengenang cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang Karbala, Irak pada tanggal 10 Muharam 61 Hijriah (681 M).

Perayaan di Bengkulu pertama kali dilaksanakan oleh Syeh Burhanuddin yang dikenal sebagai Imam Senggolo pada tahun 1685. Syeh Burhanuddin (Imam Senggolo) Menikah dengan wanita Bengkulu kemudian anak mereka, cucu mereka dan keturunan mereka disebut sebagai keluarga Tabot. upacara ini dilaksanakan dari 1 sampai 10 Muharram (berdasar kalendar islam) setiap tahun.

Sampai saat ini upacara adat tersebut masih dapat dinikmati oleh masyarakat setempat maupun dari luar daerah. Tetapi, kesakralan dari Tabot tidak lagi dapat dinikmati dengan indah.
Acara-acara adat Tabot kini diwarnai dengan berbagai macam karnaval-karnaval yang diadakan oleh pihak-pihak tertentu. Hal itu yang di zaman sekarang ini menghilangkan ketajaman dan kesakralan.

Puisi tersebut terlahir dari rahim Willy Ana yang berasal dari Bengkulu. Hadir sebagai keganjalan tentang adat yang sudah tidak memiliki kesakralan setelah kota tersebut kehilangan tetua-tetua adat.

Dalam larik-larik tersebut lelaki dan perempuan putih makin pipih sebagai pembuka atau pengantar puisi Tabot. Setelahnya ia merasakan kehilangan Syeikh Burhannuddin yang sudah masuk ke dalam lobang hitam adalah ancaman bagi kota Bengkulu. Begitu juga, dengan kepergian Husein bin Abi Thalib.

Bunyi-bunyian dari dol dan tessa seraya sudah hilang. Itulah yang saat ini digambarkan oleh Willy Ana sebagai pengarang. Ia sudah benar – benar kehilangan ciri khas dari Bengkulu.

Suara-suara dari alat musik itu sudah berganti menjadi suara wanita yang mendayu dan dapat membelah malam. Larik demi larik dilansirnya, kesedihan terbenam di jantungnya.

Pada bait puisi ke 2, Willy Ana menyatakan laut sudah tak bergelombang, pantai menjadi warna-warna seperti pasar malam di kota -kota. Ketajaman laut sudah hilang, ombak sudah punah ditelan oleh modern yang ada di dunia.
Willy Ana dalam puisinya berharap besar untuk perubahan kota kelahirannya untuk menjadikan kembali kesakralan dari Tabot. Sebagaimana puisi-puisi lain dari Willy Ana memang kebanyakan bertemakan tentang Bengkulu.
Kembali pada puisi bait terakhir mari kita simak

Orang-orang laut pulang
Setelah melarungkan sampan kecil
Berisi doa-doa dan kenangan
Ke laut

Willy Ana menyatakan kalau orang-oramg telah pulang. Karena, semua yang akan mereka laksanakan telah usai. Dengan menggunakan sampan kecil menuju laut yang sudah tak bergelombang.
Sepertinya semua telah tiada. Hanya tinggal doa-doa dan kenangan yang akan berlabuh ketepian laut.
Willy Ana sebagai penyair muda bengkulu terus mempertahankan budaya-budaya yang ada disana serta terus menggali apa yang dapat dilahirkannya dari kota tersebut. meski, kini ia sudah tidak menetap disana.


*Penulis adalah Mahasiswa UMSU dan bergiat di komunitas diskusi sastra FOKUS UMSU Medan

Hubungan Sikap Guru terhadap Kompetensi Profesional Guru

Hubungan Sikap Guru terhadap Kompetensi Profesional Guru

Oleh : Nurhayati, S.Pd., MM

Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oeh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, dan kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta mernerlukan pendidikan profesi (UU. No. 14 Tahun 2005 Tentang guru dan Dosen pasal 1.4). guru sebagai pendidik profesional dituntut untuk selalu menjadi teladan bagi masyarakat di sekelilingnya. Pada dasarnya profesi guru adalah profesi yang sedang tumbuh. Walaupun ada yang berpendapat bahwa guru adalah guru semi profesional, namun sebenarnya lebih dan itu. Hal ini dimungkinkan Karena jabatan guru hanya dapat diperoleh pada lembaga pendidikan yang lulusannya menyiapkan tenaga guru, adanya organisasi profesi, kode etik dan ada aturan tentang jabatan fungsional guru (SK Menpan No. 26/1989).

Usaha profesionalisasi merupakan hal yang tidak perlu ditawar-tawar Iagi Karena uniknya profesi guru Profesi guru harus memiliki berbagai kompetensi seperti kompetensi profesional, personal dan sosial. II. Sasaran Sikap Profesional guru Secara umum, sikap profesional saorang guru dilihat dari faktor luar. Akan tetapi, hal tersebut belum mencerminkan seberapa baik potensi yang dimiliki guru sebagai seorang tenaga pendidik. Menurut PP No. 74 Tahun 2008 pasal 1.1 Tentang guru adalah  UU No. 14 Tahun 2005 pasal 1.1 Tentang guru dan Dosen, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaiuasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalar pendidikan format, pendidikan formal dan pendidikan menengah. 1) Sikap terhadap peraturan perundang-undangan Pada butir sembilan Kode Etik guru. Indonesia disebutkan bahwa: “guru melaksanakan segala kebijaksanaan Pemerintah dalam bidang pendidikan”. (PGRI, 1973).  Kebijaksanaan pendidikan di negara kita dipegang oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melalui ketentuan-ketentuan dan peraturan-peraturan yang harus dilaksanakan oleh aparatur dan abdi negara. guru mutlak merupakan unsur aparatur dan abdi negara. Karena itu guru harus mengetahui dan malaksanakan kebijakan-kebijakan yang ditetapkan. Setiap guru di Indonesia wajib tunduk dan taat terhadap kebijaksanaan dan peraturan yang ditetapkan dalam bidang pendidikan, baik yang dikeluarkan oleh Depdikbud maupun departemen lainnya yang berwenang mengatur pendidikan. Kode Etik guru Indonesia memiliki peranan penting agar hal ini dapat terlaksana. 2) Sikap terhadap organisasi profesi Dalam UU. No. 14 Tahun 2005 pasal 7.1.i disebutkan bahwa “guru harus memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru”. Pasal 41.3 menyebutkan guru wajib menjadi anggota organisasi profesi lni berarti setiap guru di Indonesia harus tergabung dalam suatu organisasi yang berfungsi sebagai wadah usaha untuk membawakan misi dan memantapkan profesi guru. Di Indonesia organisasi ini disebut dengan Persatuan guru Republik lnoonesia (PGRI). Dalam Kode Etik guru indonesia butir delapan disebutkan : guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian. Ini makin menegaskan bahwa setiap guru di Idonesia harus tergabung dalam PGRI dan berkewajiban serta bertanggung jawab untuk menjalankan, membina, memelihara dan memajukan PGRI sebagai organisasi profesi. Baik sebagai pengurus ataupun/sebagai anggota. Hal ini dipertegas dalam dasar keenam kode etik guru bahwa guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan, dan meningkatkan martabat profesinya.

Peningkatan mutu profesi dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti penataran, lokakarya, pendidikan lanjutan, pendidikan dalam guru, studi perbandingan dan berbagai kegiatan akademik lainnya. Jadi kegiatan pembinaan profesi tidak hanya terbatas pada pendidikan prajabatan atau pendidikan lanjutan di perguruan tinggi saja, melainkan dapat juga dilakukan setelah lulus dari pendidikan prajabatan ataupun dalam melaksanakan jabatan. Guru bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian. Maka dari itu setiap orang harus memberikan waktu sebagiannya untuk kepentingan pembinaan profesinya dan semua waktu dan tenaga yang diberikan oleh para anggota ini dikoordinasikan oleh para pejabat organisasi tersebut, sehingga pemanfaatannya menjadi efektif dan efisien. 3) Sikap terhadap teman sejawat Dalam ayat tujuh. Kode Etik Guru disebutkan bahwa “guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial”. lni berarti bahwa: guru hendaknya menciptakan dan memelihara hubungan sesarna guru dalam lingkungan kerjanya. Guru hendaknya menciptakan dan memelihara semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial di dalam dan di luar lingkungan kerjanya.

Dalam hal ini ditunjukkan bahwa betapa pentingnya hubungan yang harmonis untuk menciptakan rasa persaudaraan yang kuat di antara sesama anggota profesi. Di lingkungan kerja, yaitu sekolah, guru hendaknya menunjukkan suatu sikap yang ingin bekerja sama, menghargai, guru, dan rasa tanggungjawab kepada sesama personel sekolah. Sikap ini diharapkan akan memunculkan suatu rasa senasib sepenanggungan, menyadari kepentingan bersama, dan tidak mementingkan kepentingan sendiri dengan mengorbankan kepentingan orang Iain. Sehingga kemajuan sekolah pada khususnya dan kemajuan pendidikan pada umumnya dapat terlaksana. Sikap ini hendaknya juga dilaksanakan dalam pergaulan yang Iebih luas yaitu sesama guru dari sekoIah lain. 4) Sikap terhadap anak didik Dalam Kode Erik guru Indonesia disebutkan : “guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya berjiwa Pancasila Dasar ini mengandung beberapa prinsip yang harus dipahami seorang guru dalam menjalankan tugasnya sehari-hari, yakni: tujuan pendidikan nasional, prinsip membimbing, dan prinsip pembentukan manusia indonesia yang seutuhnya. Tujuan Pendidikan Nasional sesuai dengan UU. No. 2/1989 yaitu membentuk manusia indonesia seutuhnya berjiwa Pancasila. Prinsip yang Iain adalah membimbing peserta didik, bukan mengajar atau mendidik saja. Guru membimbing seperti yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara yaitu  ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso,  dan  tut wuri handayani.  Kalimat ini mengindikasikan bahwa pendidikan harus memberi contoh, harus dapat memberikan pengaruh, dan harus dapat mengendalikan peserta didik. Prinsip manusia seutuhnya dalam kode etik ini memandang manusia sebagai kesatuan yang bulat, utuh baik jasmani maupun rohani, tidak hanya berilmu tinggi tetapi juga bermoral tinggi pula. Dalam mendidik guru tidak hanya mengutamakan aspek intelektual saja, tetapi juga harus memperhatikan perkembangan seluruh pribadi peserta didik, baik jasmani, rohani, sosial, maupun yang lainnya sesuai dengan hakikat pendidikan.

Profesional guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian. Profesional guru yang dimaksud adalah guru yang profesional. Adapun guru profesional itu sendiri adalah guru yang berkualitas, berkompetensi, dan guru yang dikehendaki untuk mendatangkan prestasi belajar serta mampu mempengaruhi proses belajar mengajar siswa, yang nantinya akan menghasilkan prestasi belajar siswa yang lebih baik.


*Penulis merupakan Kepala Sekolah Dasar Negeri di Cibeber, aktif di berbagai organisasi kewanitaan, menyukai sastra.