Tag : budaya

Sastra, Budaya dan Intelektualitas Pengarang

Sastra, Budaya dan Intelektualitas Pengarang

Oleh: Fachru Rozi

Sastra merupakan kegiatan kreatif yang mampu melahirkan sebuah karya seni. Hakikat karya sastra dapat ditinjau dalam kerangka komunikasi karya sastra secara menyuluruh, yaitu pengarang-karya sastra-budaya-pembaca. Lagi pula, pada dasarnya karya sastra adalah hasil dari pekerjaan seni yang memerlukan sebuah proses kreatif yang terbagi atas perenungan, pengendapan ide, pematangan, dan langkah-langkah tertentu yang diterapkan oleh pengarang terhadap karya sastranya. Maka proses kreatif yang diterapkan  oleh Ahmad Tohari akan berbeda dengan yang dilakukan oleh Ramadhan K.H, Ajib Rosidi, A.A Navis, Putu Wijaya, Chairun Harun, Hasan Al-Banna, Sartika Sari atau Yulhasni. Karya sastra memerlukan bakat, intelektualitas dan wawasan kesusasteraan.

Terlepas dari bakat dan wawasan kesusasteraan tersebut, intelektualitas adalah sebuah pemikiran yang terbungkus dalam bentuk khusus. Jadi dapat dikatakan bahwa karya sastra diciptakan untuk mengungkapkan pemikiran-pemikiran hebat. Hal ini tidak terlepas dari anggapan bahwa karya sastra adalah dokumen sejarah pemikiran dan filsafat, karena sejarah sastra sejajar dengan sekaligus mencerminkan sejarah pemikiran. Secara langsung atau melalui alusi-alusi dalam karyanya, seorang pengarang tentu menganut aliran filsafat tertentu, mempunyai hubungan dengan paham-paham yang domain pada zamannya, atau paling tidak mengetahui garis besar ajaran paham-paham tersebut yang tertumpah dalam setiap karya sastranya.

Namun, bila ditinjau lebih jauh, pengaruh paling besar yang diterima oleh sebuah karya sastra adalah budaya yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Hal ini menjurus pada intelektualitas pengarang yang sudah semestinya sesuai dengan pemikiran-pemikiran dalam kehidupan masyrakat. Sebab bagaimanapun masyarakat memiliki peranan penting sebagai penikmat sekaligus penilai dari sebuah karya sastra. Selain itu, Sapardi (1979: 1) memaparkan bahwa sastra itu adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium. Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan social.

Respon estetik yang diberikan oleh budaya melalui perantara masyarakat terhadap sebuah karya sastra adalah satu-satunya alasan pengarang agar karya sastranya dapat diterima dengan baik. Maka berdasar hal tersebut sudah dapat dipastikan bahwa intelektualitas pengarang mengenai sastra mesti berbanding dengan budaya yang sedang berkembang dalam kehidupan masyarakat tertentu.

Untuk meyakinkan hal tersebut kita bisa bertolak dari karya-karya W.S Rendra yang memang hampir keseluruhan puisi-puisinya menggambarkan seperti apa kondisi dan situasi budaya yang berlaku dalam masyarakat ketika itu, termasuk seperti puisi “Diponegoro” karya Chairil Anwar, dan berikut juga novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” karya Hamka yang menggambarkan begitu apiknya budaya masyarakat Padang.

Semua karya sastra tersebut dinilai memenuhi dan merangkum konsep pemikiran masyarakat yang berlaku saat itu. Sehingga karya sastra tersebut mampu melesap begitu jauh ke dalam kehidupan masyarakat yang memiliki fungsi estetikator bagi sebuah karya sastra. Maka dari itu keintelektualitasan pengarang tidak akan bisa terlepas dari budaya yang juga berperan penting sebagai patokan utama untuk menyatakan bahwa karya sastra tersebut dapat dikatakan bakal berkembang dalam kehidupan masyarakat atau tidak sama sekali.

Nah, kalau kita sedikit menyentil ke arah karya sastra yang pada saat ini. Mayoritas pengarang lebih mengarah ke ‘keterbukabebasan’ dalam karya sastranya. Kita (baca: saya) memaknai ‘keterbukabebasan’ di sini adalah yang tidak terikat oleh aturan-aturan yang mengekang seperti dalam pusi lama. Namun tetap saja, semua itu berakar pada keterbukaan lengan-lengan budaya masyarakat guna menerima atau tidaknya sebuah karya sastra. Sekuat apapun intelektulitas pengarang untuk mencurah imajinasi ke dalam karya sastra jika itu bertolak belakang dengan budaya yang ada dalam masyarakat, tetap saja karya sastra tersebut hanya akan kandas pada sebuah kebakuan makna yang tidak memiliki fungsi apa-apa.

Sebagai contoh, saat ini kita mengetahui bahwa banyaknya sastra-sastra kontemporer yang beredar di berbagai media sosial yang dikenal dengan nama cyber sastra. Karya sastra yang menyimpan bentuk pemikiran atau intelektualitas seseorang yang (bisa jadi) sudah pasti tak sesuai dengan fenomena, ajaran dan budaya yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Sudah barang tentu hal tersebut perlahan-lahan bakal mempengaruhi respon estika karya sasra yang lebih mengarah ke bentuk yang semakin menyimpang.

Jika hal tersebut terus berlanjut, tidak dapat dipungkiri akan terjadi kecederaan dalam tubuh sastra. Bakal berakibat pada semakin senjangnya jarak antara karya sastra dengan kehidupan masyrakat sebab ketidaksesuaian yang terus dilahirkan oleh sastra-sastra kontemporer di berbagai sosial media. Memang, walau bagaimanapun konsep dari karya sastra itu sendiri dikembalikan kepada masyarakat sebagai estetikator terlepas dari kesakralan budaya.

Tapi yang perlu ditanam dalam benak bahwa setiap karya sastra yang dilahirkan dari intelektualitas-intelektualitas hebat pengarang, yang sesuai dengan budaya yang diakui dalam kehidupan masyarakat-selektif-adalah karya sastra yang dapat dikatakan memiliki keestetikaan murni, baik jika dinilai dari budaya masyarakat maupun dari karya sastra itu sendiri.

 

Fachru Rozi. Mahasiswa aktif Sastra Indonesia di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara ini lahir di Tanjung Balai. Menulis esai dan puisi di beberapa media cetak dan online. Sedang bergiat di komunitas menulis, Fokus UMSU. Saat ini berdomisili di Medan, Jalan Pembangunan 1 No. 1 Kecamatan Medan Timur Kelurahan Glugur Darat II.

Doel Sumbang Gebrak Ribuan Warga Gekbrong

Doel Sumbang Gebrak Ribuan Warga Gekbrong

GEKBRONG | Harian Waktu Musisi Sunda, Doel Sumbang tampil memukau di hadapan ribuan warga Gekbrong pada kegiatan saba lembur “Cianjur Ngawangun Lembur”, Jumat malam (7/4). Sedikitnya enam lagu dibawakan artis asal Bandung ini, di antaranya Ai, Berenyit, Sisi Laut Pangandaran, Were, Aku Rindu Padamu, dan Ema.

Seniman dan Budayawan Sunda, Doel Sumbang, mengatakan, warga Cianjur patut bersyukur karena kini memiliki bupati yang mau turun ke bawah. Sehingga pelaksanaan percepatan pembangunan bisa langsung terasa oleh masyarakat.

“Urang Cianjur tangtu kudu bersyukur memiliki bupati nu daek turun ka handap, hayu urang dukung program-programna,” kata pemilik nama Abdul Wahyu Affandi atau lebih dikenal dengan Doel Sumbang itu.

Doel Sumbang mengatakan pihaknya sangat merespon apa yang digagas dan diprogramkan Bupati Cianjur ini. Kegiatan kesenian dan kebudayaan khususnya seni dan budaya sunda sudah sepatutnya berada paling depan dalam menyampaikan program pembangunan agar sesuai dengan nafas rakyat.

“Insyaallah saya sangat mendukung program pak bupati turun ke lapangan, ini tentu saja program yang sangat bagus dan patut dicontoh oleh kepala daerah lainnya khususnya yang ada di Jawa Barat,” kata Kang Doel.

Menurutnya, selama ini dirinya telah beberapa kali turun ke lapangan bersama Bupati Cianjur, Irvan Rivano Muchtar, dalam rangka memimpin program percepatan pembangunan Cianjur Ngawangun Lembur. “Saya terus terang ikut bangga memiliki pemimpin yang langka seperti ini, semoga pak bupati tetap diberi kekuatan dan kesehatan sehingga mampu membawa masyarakat Cianjur lebih maju dan agamis ,” sambungnya.

Berdasarkan pantauan, Bupati Cianjur dan rombongan datang ke Kecamatan Gekbrong untuk menuntaskan sejumlah program pembangunan di wilayah itu. Termasuk memimpin pelaksanaan berbagai pelayanan kepada masyarakat.  Seperti layanan cepat kependudukan, kesehatan dan perijinan. Ribuan warga sejak pagi hingga acara usai terus berdatangan mengikuti kegiatan yang sangat meriah tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Pemerintah Kabupaten Cianjur, Tedy Artiawan mengatakan, saba lembur Cianjur Ngawangun Lembur merupakan program Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur. Sedangakan dalam kegiatan tersebut ada beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Cianjur yang mengikuti kegiatan tersebut.

“Para OPD yang mengikuti kegiatan. Mereka ikut melayani masyarakat, seperti pelayanan Kartu Tanda Penduduk elektronik (KTP el), Kartu Keluarga (KK), dan lainnya, ” kata Tedy. Deni Abdul Kholik

Pengrajin Wayang Golek Mulai Tersisih

Pengrajin Wayang Golek Mulai Tersisih

CIANJUR | Harian Waktu – Jarang adanya pementasan wayang golek ternyata membawa dampak tersendiri bagi pengrajin wayang golek. Seperti yang dirasakan para pengrajin wayang golek di kampung Sukamulya, Desa Girimulya, Kecamatan Cibeber, sepi orderan.

Menurut H. Supyan (50), sebagai sentra kerajinan wayang golek, Kampung Sukamulya selalu banjir pesanan. Pemesannya tidak hanya dari kalangan dalang, namun juga masyarakat biasa untuk cenderamata atau hiasan interior rumah.

“Tapi itu dulu akhir tahun 90-an, warga (para pengrajin) tidak pernah berhenti membuat wayang. Sekarang nyaris tidak ada pesanan. Pengrajin banyak yang banting setir, ada bertani dan berdagang,” katanya.

Jumlah pengrajin wayang golek di Kampung Sukamulya sendiri, sebut dia mencapai puluhan. Mereka mengerjakan pembuatan wayang berbahan kayu itu di selasar-selasar rumah. “Sekarang di teras-teras rumah sudah sepi,” katanya.

Ditambahkan Supyan, memburuknya bisnis kerajinan wayang golek ini pun tidak terlepas dari minat generasi muda terhadap kebudayaan Sunda yang semakin luntur. Hampir tidak ditemukan, remaja atau pemuda yang memiliki ketertarikan dengan pementasan wayang golek.

“Ditambah pementasannya yang jarang digelar. Dulu, kalau ada wayang golek manggung, lapangan penuh sesak, sampai subuh pun warga tetap menontonnya. Tapi sekarang jamannya sudah lain, sudah berubah,” ujarnya.

Salahseorang pengrajin wayang golek, Dede Wiguna (58) atau akrab disapa wak Ende bercerita sepak terjangnya di dunia bisnis kerajinan wayang golek. 20 tahun yang silam, hari-harinya tak pernah lepas dari pisau serut, membuat wayang golek saking banyaknya pesanan.

“Dulu saya bisa buat ratusan. Sekarang sudah tidak lagi, sudah ditinggalkan oleh generasi sekarang,” katanya.

Selain kesehariannya habis untuk membuat wayang golek pesanan orang, wak Ende juga berprofesi sebagai dalang. Kemahirannya dalam memainkan bonek kayu khas Sunda ini ia dapat secara otodidak.

“Kan kalau bikin wayang itu harus dicoba-coba dulu, nah dari situ saya kadang suka isi suaranya. Lama kelamaan asyik juga, jadinya keterusan. Kalau pesanan sedang sepi, saya suka ngadalang,” ucapnya.

Namun, sambung dia, bisnis ngadalang pun saat ini semakin sepi. Biasanya warga yang menggelar hajatan atau sunatan selalu mengundangnya untuk mementaskan wayang golek. “Sekarang jarang ada yang ngondang, kalah pamor sama organ tunggal,” pungkasnya.

Ditempat lain Ishak Suhendra (52), pemilik sanggar kerajinan wayang golek di Jalan Raya Andir Desa Cibiuk, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, juga mengalami hal sama sepi orderan. Namun ia tetap setia menggeluti kerajinan pembuatan wayang golek meski peminatnya semakin menurun.

Tampak terpampang wayang golek hasil karyanya sepertiPandawa Lima, Semar, Si Cepot dan lainnya. Kerajinan terseut pun sudah ditekuni sejak berusia 11 tahun, Pasang surut keberadaan kerajinan pun sudah dialaminya. “Meski permintaan semakin hari semakin menurun, saya ingin wayang golek tetap ada,” katanya. DJ/ Net

The Exploration Of Art SPENSA 2017

The Exploration Of Art SPENSA 2017

Harian Waktu – Perhelatan kesenian kebudayaan kini tampil lebih elegan di kampus SMPN 1 Cianjur. Kegiatan ini bertajuk “The Exploration Of Art SPENSA 2017 “. Kegiatan yang didukung penuh oleh semua perangkat sekolah, mulai dari peserta didik, orang tua murid, guru-guru, dan kepala sekolah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta Dinas Pariwisata dan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Cianjur, ini memberikan suasana yang harmonis, berbudaya, dan selaras dengan tajuk kegiatannya.

    

Rangkaian acara pembukaan tadi pagi, dibuka langsung oleh Kepala Disparpora Kabupaten Cianjur, M. Yeyen Rohyanda Wargadisastra, BA. Kemeriahan nampak terasa pada saat gong dibunyikan, seraya peserta dan seluruh yang hadir di acara tersebut memberikan tepuk tangan yang meriah.

Ketua panitia yang sekaligus menjabat sebagai guru seni budaya SMPN 1 Cianjur Fitri Nurfaida, S.Sn, M.Pd. memaparkan, “Hari pertama kegiatan pergelaran kesenian kebudayaan ini (22/03) , menampilkan beberapa kebudayaan dan kesenian dari setiap masing-masing provinsi se-Indonesia. dan untuk hari keduanya, tema yang diangkat adalah kebudayaan dari masing-masing negara se-dunia”.

“kegiatan pergelaran kesenian ini bertujuan untuk membangun potensi siswa, dan sebagai bentuk pembelajaran yang terdapat pada kurikulum 2013 atau K13 untuk bidang study Seni Budaya” lanjut ketua panitia yang juga sebagai pengurus Dewan Kesenian Cianjur. @SubhanIhsan