Tag : UNSUR

Firman Mulyadi Dijadikan Nama Gedung Kemahasiswaan di FH UNSUR

Firman Mulyadi Dijadikan Nama Gedung Kemahasiswaan di FH UNSUR

SIGAP : Jajaran Rektorat. Dekan, Dosen, dan Alumni Fakultas Hukum UNSUR Cianjur, tengah jalan bersama menuju lokasi pembangunan gedung kemahasiswaan

CIANJUR, waktunews.com – Pelatakan batu pertama pembangunan Gedung Kemahasiswaan Fakultas Hukum Unsur Cianjur resmi dilaksanakan, Kamis (11/1/18) pagi. Gedung Kemahasiswaan itu dinamai Firman Mulyadi, sebagai bentuk penghargaan terhadap alumni Fakultas Hukum yang telah memperjuangkan dan mengupayakan bantuan untuk pembangunan Gedung Mahasiswa.

Di gedung tersebut, rencananya akan di bangun dua lantai yang diharapkan pada awal ajaran baru sudah bisa dipergunakan.

Dekan Fakuktas Hukum Unsur Cianjur, Dr Henny Nuraeni, menuturkan, pembangunan gedung tersebut merupakan untuk ruang organisasi kemahasiswaan Fakultas Hukum,

“Kami membangun gedung ini untuk menunjang kegiatan kemahasiswaan, agar anak-anaku mahasiswa Fakultas Hukum dapat menyalurkan kreatifitas, mencurahkan gagasan, dan menjadi labolatorium pembelajaran dalam berorganisasi,” ujarnya di sela kegiatan.

Henny menambahkan, Firman Mulyadi merupakan salah seorang alumni Fakultas Hukum yang sukses secara akademis, karir, dan profesi.

“Nantinya gedung ini akan kita berinama Gedung Firman Mulyadi. Profesinya Advokat bekerja di DPR RI (Tenaga Ahli, red) dan secara akademik lulus S2 dan saat ini sedang menempuh Program Doktor di Universitas Jayabaya Jakarta,” tambahnya.

Menurut Henny, Firman patut dicontoh oleh mahasiswa lainnya. “Harus dicontoh oleh anak-anaku mahasiswa fakultas hukum, sosok alumni seperti Kang Firman Mulyadi,” pintanya.

Terpisah, Firman Mulyadi, mengucapkan terima kasih serta merasa bangga dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Dekan Fakultas Hukum yang telah menyematkan namanya di Gedung Kemahasiswaan.

“Terimakasih Bu Dekan Fakultas Hukum, yang telah menyematkan nama saya pada gedung kemahasiswaan (Firman Mulyadi),” ucap pria yang juga Ketua Presidium Kahmi Cianjur itu.

Dia bersyukur adanya gedung kemahasiswaan yang refresentatif. Nantinya, BEM, BLM,UKM bisa memanfaatkan ini untuk lebih aktif dalam berorganisasi membentuk forum-forum diskusi dan kajian.

Di sisi lain, Fakultas Hukum sendiri saat ini sedang gencar gencarnya melakukan pembangunan gedung. Pada tahun 2016 sudah di bangun ruang Auditorium, ruang dosen serta ruang pelayananan administrasi. (**)

Alumni HMI UNSUR Siap Sukseskan Musda KAHMI

Alumni HMI UNSUR Siap Sukseskan Musda KAHMI

WAKTUNEWS.COM – Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Universitas Suryakancana menggelar silaturahmi dan sarasehan Sabtu 23 Desember 2017, kegiatan silaturahmi tersebut rutin dilaksanakan, tetapi pada hari ada yang special karena esok harinya akan di gelar Musyawarah Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kabupaten Cianjur
Dalam kegiatan tersebut hadir beberapa tokoh senior HMI diantaranya H. Damanhuri Senior HMI Angkatan 1973 Dari UPI, Saepul Anwar, mantan ketua Panwaskab Cianjur, Firman Nurdiansyah praktisi pendidikan dan Beberapa tokoh lainnya.
Firman Mulyadi  salah satu Alumni HMI UNSUR yang juga merupakan salah satu Calon Presidium MD KAHMI Kabupaten Cianjur menyampaikan bahwa Alumni Himpunan Mahasiswa Islam UNSUR siap berpartisipasi mensukseskan kegiatan MUSDA KAHMI.
“Kita berkumpul hari ini membawa semangat perjuangan HMI dari bernagai generasi untuk bisa saling bersinergi saling membesarkan” Terang Firman.
Dendi Priatna Mantan Ketua Umum HMI Cabang Cianjur menegaskan Dalam kegiatan ini lebih dari 70 Alumni UNSUR hadir dari berbagai angkatan ” Alumni HMI ini banyak dari berbagai generasi dan profesi, saya bahagia bisa berkumpul dengan senior-sebior, teman-teman dan Kader HMI yang masih aktif semoga dapat terbangun kekeluargaan dan kebersamaan”.
Kegiatan sarasehan dan silaturahmi ini ditutup dengan menyantap hidangan nasi liwet hangat, ikan asin dan lalapan. (**)
Mahasiswi Unsur Cianjur Juara II Duta Genre Jabar

Mahasiswi Unsur Cianjur Juara II Duta Genre Jabar

CIANJUR, waktunews.com – Tari Nurjanah, mahasiswa semester IV di Fakultas Hukum (FH) Universitas Surya Kencana (Unsur) terpilih menjadi duta Genre tingkat Jawa Barat. Delegasi dari Cianjur yang terpilih juara II ini, dari Genre beserta 37 pasang putra dan putri terbaik dari tiap-tiap kabupaten se-Jawa Barat yang dilaksanakan di Bandung.

Berdasarkan keteangan, Generasi Berencana atau disingkat menjadi Genre adalah program pemerintah untuk membentuk tegar remaja.  Saat ditanya bagaimana ia bisa menjadi duta genre ini, Tari Nurjanah, bercerita, semasa di SMA sudah ikut suatu kegiatan yang namanya Pusat Informasi Konseling dan dilanjut kembali saat sudah menjadi mahasiswa.

“Di kampus ikut UKM Resimen Mahasiswa yang sekaligus kepala urusan pembinaan mental UKM Menwa yang menaungi PIK tadi. Kemudian terpilih melalui seleksi di BKKBN Kabupaten Cianjur sebagai duta Genre yg akan diperlombakan di Bandung,” ujarnya.

Seleksi ini melalui beberapa tahapan, presentasi, unjuk kabisa,intelegensi, dan wawancara. Menurutnya, Genre fokus utama sasarannya ialah anak-anak remaja untuk menghindari remaja-remaja dari pernikahan dini, seks bebas , narkotika, demi meningkatkan kualitas hidup remaja dan mewujudkan keluarga kecil yang bahagia.

Tari, mendapat Juara 2 Duta Genre Mahasiswa Jawa Barat 2017. Ia sangat merasakan kesan yang luar biasa setelah mengikuti kegiatan ini. Ia tak menyangka bakal mendapatkan juara II dan lagi ini bukan hanya sekedar lomba melainkan saling berbagi ilmu pengetahuan juga pengalaman.

”Jadi suatu pengingat bagi diri sendiri untuk dapat berprilaku dan teladan dalam merealisasikan dan saya bersyukur ternyata masih banyak remaja-remaja hebat,“ pungkasnya. ●Ricky/Net

Fakultas Hukum Universitas Suryakancana Cianjur Punya Gedung Baru

Fakultas Hukum Universitas Suryakancana Cianjur Punya Gedung Baru

CIANJUR – Fakultas Hukum (FH) Universitas Suryakancana Cianjur akhirnya memiliki gedung baru. Peresmian gedung baru itu pun dihadiri dosen dan mahasiswa.

Wakil Dekan II FH Unsur, Kuswandi mengatakan, pembangunan gedung baru rampung setelah tahap dua.

“Alhamdulillah pembangunan tahap kedua telah selesai dan dapat digunakan. Selanjutnya dalam waktu dekat Fakultas Hukum akan melaksanakan pembangunan tahap ke tiga,” ujarnya.

Senada dengan Kuswandi, Dekan FH, Henny Nuraeni menambahkan, terimakasih kepada seluruh jajaran yang telah turut menyumbang dalam pembangunan. Menurutnya, adanya bantuan dari mahasiswa dan alumni fakultas hukum dapat menjadi fakultas yang unggul.

“Terimakasih bagi pihak-pihak yang sudah menyumbang dan dari segenap pihak,” tuturnya. (DJ/Net)

Mahasiswa FH Unsur Berlomba Mendapatkan Beasiswa

Mahasiswa FH Unsur Berlomba Mendapatkan Beasiswa

CIANJUR | Harian Waktu Fakultas Hukum (FH) memberi kesempatan bagi mahasiswa berprestasi untuk mendapatkan dana bantuan pendidikan. Bantuan tersebut akan diberikan melalui program program tentang pemberian beasiswa peningkatan prestasi akademik dan beasiswa pemerintah provinsi Jawa Barat.

Untuk mendapatkan dana bantuan pendidikan mahasiswa Pekan harus mempersiapkan berkas persyaratan yang ada. Dana bantuan pendidikan atau yang sering disebut beasiswa merupakan program tahunan FH dari rektorat juga dari pemerintah provinsi Jawa Barat untuk mendukung mahasiswa-mahasiswa berprestasi.

Mahasiswa FH ini disibukan untuk mempersiapkan dokumen persyaratan terkait program-program beasiswa. Pasalnya, untuk salah satu syarat adalah dokumen kelengkapan seperti piagam prestasi akademik dan non akademik.

Dampaknya, staf bagian akademik dan bagian umum FH juga tidak kalah sibuk mempersiapkan dokumen-dokumen pelengkap bagi mahasiswa yang hendak membutuhkan.

Staf Akademik FH, Leni menyebutkan bagaimana kesibukannya untuk melayani para mahasiswa FH yang ingin mendapatkan beasiswa.

“Alhamdulillah mahasiswa sangat antusias untuk mengikuti program beasiswa yang kemudian nantinya akan ada tahap-tahap seleksi sesuai prosedur yang sudah ditetapkan,” paparnya.

Ia menambahkan, pesan bagi mahasiswa yang hendak mengajukan beasiswa untuk memeriksa ulang kelengkapan dokumen.

”Karena yang saya lihat banyak mahasiswa yang kurang teliti dalam pemberkasan,” ujarnya.

Ia berpesan, mahasiswa harus tetap semangat jika nanti tidak terpilih karena masih ada lain waktu. Diketahui bobot dari dana bantuan pendidikan ini dapat membebaskan mahasiswa dari biaya kuliah selama dua semester. DJ/Net

Ratusan Mahasiswa Kawal Sidang Gugatan Tanah Unsur

Ratusan Mahasiswa Kawal Sidang Gugatan Tanah Unsur

CIANJUR  | Harian Waktu – Ratusan mahasiswa dari lima fakultas Universitas Suryakancana (Unsur) Cianjur mendatangi Gedung Pengadilan Negeri (PN) Cianjur, kemarin. Kedatangan mereka untuk mendukung pihak Rektorat dan Yayasan Unsur atas sidang lanjutan gugatan tanah yang ditempati Unsur.

Mahasiswa sebelumnya berkumpul di kampus pukul 08.00 WIB selanjutnya berjalan kaki menuju PN Jalan Dr Muwardi (By Pass) Cianjur. Tiba pada pukul 10.00 WIB mahasiswa langsung menggelar orasi di depan PN.

Perwakilan tiap fakultas langsung menyampaikan orasinya sambil menerikan yel sebagai dukungan atas lembaga mereka yang kini tengah didzolimi. “Kami akan mendukung lembaga Unsur dari rongrongan orang yang ingin merusak pendidikan di Cianjur, ada sekitar 6.500 mahasiswa yang akan jadi korban bila ada pihak yang akan mengganggu Unsur,” kata salah seorang mahasiswa Unsur Agus Rustandi dalam orasinya.

Menurut Agus, aksi juga untuk mengawal proses persidangan sengketa gugatan. Keberadaan tanah Unsur juga merupakan milik lembaga yang sah dan legal, apalagi digunakan untuk perkuliahan. “Tanah milik mahasiswa untuk mahasiswa, maka kami akan kawal proses persidangan selanjutnya sampai putusan dan ingkrah,” ungkap Agus.

Koordinator Lapangan Aliansi Mahasiswa Unsur Salman Al Fath mengungkapkan, aksi bertujuan untuk mempersatukan mahasiswa Unsur agar peka terhadap problematika Unsur saat ini. “Ya untuk menyadarkan pula mahasiswa bahwa Unsur ini rumah kita dan harus dipertahankan oleh kita,” terang Salman.

Terkait proses hukum yang tengah berjalan, Salman menilai pihak penggugat tidak relepan ketika melakukan gugatan pada institusi pendidikan, karena bisa menghambat proses pendidikan pada generasi-generasi penerus bangsa. “Apalagi yang menggugat Unsur dari Alumni juga, kan tidak relepan,” sesalnya.

Kepala Biro Kemahasiswaan yang juga Tim Pengacara Unsur, Buchori Muslim MH meyakini jika pihaknya bisa memenangi gugatan penggugat atas tanah Unsur. “Alasanya selain gugatan lemah juga bukti-bukti yang tidak kuat. Nanti bisa dilihat pada persidangan,” jelasnya.

Pihak PN Cianjur dalam menerima perwakilan aksi mahasiswa mengungkapkan, jika majelis hakim akan mengadilidengan seadil-adilnya, dan meminta mahasiswa agar tertib saat sidang digelar.

“Silahkan yang mau lihat persidangan meski terbatas, sidang harus tertib mungkin kalau mau lihat silahkan, persidangan berjalan, sehingga tidak terpengaruh oleh ucapan yel-yel aksi,” terangnya. (HW)

Jurusan Manajemen Pendidikan Islam Unsur Terlunta-Lunta

Jurusan Manajemen Pendidikan Islam Unsur Terlunta-Lunta

 

CIANJUR | Harian Waktu – Kabar miring mengenai Jurusan Manajemen Pendidikan Islam, Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI), Universitas Suryakancana, yang sejak  tahun ini tidak akan menerima kembali mahasiswa semakin jelas. Pasalnya dalam Surat Keputusan Direktorat Jendral Pendidikan Agama Islam Nomor 3389 tahun 2013 Tentang penamaan perguruan tinggi, fakultas dan jurusan pada pendidikan agama Islam, mengharuskan adanya kesesuaian antara jurusan dan fakultas.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Rektor 1 Bidang Akademik Universitas Suryakancana, Iis Ristiani kepada HW, selasa (28/3) kemarin. “Kalo dalam brosur memang masih tertulis, tapi sudah diarahkan ke program study lain bagi mahasiswa yang mau masuk ke jurusan Manajemen Pendidikan Islam. Artinya khusus MPI fakultas Ekonomi Bisnis Islam tidak menerima mahasiswa yang mau masuk ke MPI,” ujarnya.

Iis mengatakan walaupun demikian, pihak Rektorat Unsur akan bertanggungjawab atas kejadian tersebut, dengan memindahkan jurusan tersebut ke Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). “Atas saran dari Direktorat Jendral Pendidikan Agama Islam, kami akan memindahkan mahasiswa yang masih ada yaitu angkatan 3 dan angkatan 4 ke FKIP dengan jurusan tetap,” ujarnya.

Namun hal tersebut, tidak membuat salah satu mahasiswa jurusan MPI semester 4, Ilyas Suryadi, mengatakan dirinya tidak yakin dengan apa yang dikatakan pihak Rektorat yang mengatakan akan dipindah fakultasnya. “Bagaimana mungkin jurusan manajemen pendidikan Islam bisa di pindahkan FKIP, sedangkan MPI ada embel-embel Islamnya, tetep aja harus ada di fakultas semula, yaitu Fakultas Agama Islam, kecuali embel-embel Islam nya tidak ada,” ujarnya.

Ilyas yang juga aktivis GMNI ini menganggap, bahwa pihak kampus tidak serius memikirkan nasib lulusannya, yang membiarkan jurusannya ter lunta-lunta, tidak ada kejelasan. “Kami hanya ingin kepastian, sejelas-jelasnya, agar kami bisa nyaman dalam belajar,” tegasnya.

Jelas jelas kata dia, di Universitas Suryakencana jurusan Manajemen Pendidikan Islam ini ada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, pada dasarnya tidak satu rumpun yang seharusnya ada di fakultas Tarbiyah. ”Seharusnya jurusan MPI  dulu itu tetap ada di fakultas agama Islam dengan perubahan tersebut justru yang mengakibatkan terjadinya rumpun yang berbeda, lalu apakah kami harus melegalisir ijazah ke Kopertis, kan tidak mungkin,” kata dia.  Ismat Nasrulloh

PERAN KELUARGA TEKAN KEKERASAN

PERAN KELUARGA TEKAN KEKERASAN

Cianjur | Harian Waktu – Ketua  Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jawa Barat, Netty Prasetiyani Heryawan menyatakan,  saat ini, salah satu isu kependudukan masih menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia, terutama Jawa Barat, adalah masalah kemiskinan, meski masalah lain juga menjadi isu yang kini terus ditindaklanjuti.

Hal ini dia ungkapkan saat menjadi narasumber dalam Kuliah Umum dengan Judul Peranan Perguruan Tinggi Dalam Peningkatan Kesejahteraan Dan Anak Dalam Era Globalisasi Di Auditorium Universitas Suryakencana, kemarin.

Menurut istri Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan tersebut, kemiskinan, pemberdayaan perempuan dan generasi muda, kekerasan terhadap perempuan dan anak, kesehatan dan reproduksi, lingkungan, kesehatan masyarakat lanjut usia, dan penataan ruang menjadi masalah yang harus dicarikan solusinya.

Pada masalah pemberdayaan perempuan dan generasi muda, Netty memberikan sedikit gambaran. Menurut Netty, kekurangpahaman kaum perempuan dan generasi muda akan perannya sebagai subyek pembangunan bangsa menjadi pemicu tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Masalah kekerasan yang dialami perempuan, yang memiliki peranan adalah keluarganya itu sendiri, dimana keluarga yang miskin seakan terpinggirkan atau tersisihkan oleh lingkungan sekitar.

Oleh karena itu ketidakmampuan  keluarga membangun, mengasuh yang benar dan tepat. Jadi pengawasan itu harus dari keluarga terlebih dahulu, baru kita menyasar ke pihak yang lainya kerena keluarga diliputi berbagai masalah sehingga tertanam sepenuhnya.

“Nah disini mulai terjadi pengalihan pengasuhan oleh pengalihan teknologi tinggi anak-anak bermain dengan sekelompok orang –orang yang tidak baik,” katanya.

Sedangkan potret tatanan keluarga itu, kata Netty,  penting pengawasan pengasuhan. Perlindungan adanya di keluarga terlebih dahulu, itu ada aturannya. Kemudian ada pasal yang mengamanatkan anggota masyarakat harus terlibat memotifator ketahanan keluarga, jadi melihat kanan kiri keluarganya. Yang bermasalah kita harapkan anggota masyarakat yang lain bisa membantu pengawasan dan juga bisa melaporkan bila melihat adanya kekerasan terutama di dalam rumah tangga,” ujarnya.

Sementara itu, saat ditanya data tenaga kerja yang berangkat ke luar negeri, Netty berujar, kalau berbicara angka, cetusnya, harus merujuk ke Dinas Tenaga Kerja masing-masing. Dirinya tidak terlalu hapal dan faham berapa  jumlah warga yang ada di Cianjur, termasuk Tenaga Kerja di luar negeri, termasuk kota lainnya.

“Yang jelas memang yang dikatakan BNP2TKI, salah satu yang terbesar warganya menjadi tenaga kerja luar negeri di Jawa Barat, itu ada sembilan kabupaten, salah satunya Kabupaten  Cianjur,” ujarnya.

Mungkin, sambung Netty,  ada data dari beberapa lembaga yang  menangani ketenagakerjaan Jadi data ini harus dinormalisasi dan selarasan data ini. Soal data tapi ini mungkin kecenderungan yang berangkat ke luar negeri meningkat, saya melihat beberapa asumsi” katanya tanpa merinci asumsinya.

Sementara itu, Netty menekankan kebijakan pembangunan di setiap daerah harus berlandaskan kependudukan. Ke depan, ia berharap ada semacam forum koordinasi khusus guna menghadirkan pembangunan kependudukan yang strategis. “Jumlah penduduk yang besar sebenarnya bukan masalah jika kita memiliki kualitas dan berbanding lurus dengan ketersediaan sumber daya dan layanan masyarakat,” ucapnya.

Penyala Semangat Guru : Mau, Mampu, Maju

Penyala Semangat Guru : Mau, Mampu, Maju

Oleh : Mia Fatimatul Munsi, S.Pd., M.Pd

*Dosen di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Suryakancana Cianjur.

Teringat pemaknaan Bapak Prof. Yus Rusyana yaitu seorang guru besar UPI yang sudah tak diragukan lagi pengalamannya dalam dunia pendidikan, beliau memberikan pemaknaan dalam sebuah buku yang berjudul Teman Tumbuh Teman Belajar seri Guru Berani, “Kami sadar tentang keberadaan diri-alam-masyarakat-dan budaya masa lalu. Maka kami bangkit menjadi penyala zaman, meladeni keperluan masa kini dalam selamat sejahtera”.

Pemaknaan tersebut mengingatkan kita betapa berharganya diri kita, keadaan lingkungan, keberadaan masyarakat, budaya, alam fisik dan alam hayati. Seluruhnya hal tersebut memiliki daya dan kegunaan bagi kehidupan kita sekarang, asalkan kita mampu menciptakan semangat dengan inovasi-inovasi yang dapat menjawab tantangan zaman. Termasuk di Cianjur sendiri, keadaan lingkunganya, keberadaan masyarakatnya, budayanya, alam fisik, dan alam hayati harus kita manfaatkan dan kembangkan agar mampu bertahan di tengah gempuran zaman.

Jika begitu, apa yang kita butuhkan agar selalu semangat? Haruskah kita membutuhkan sosok motivator untuk menyalakan api semangat yang membara? Bagaimana cara menemukan semangat? Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin ada dibenak setiap orang  ketika semangatnya mulai mengendor. Terutama tantangan yang lebih besar  dirasakan oleh para guru yang secara geografis berada di lokasi 3T (terpencil-terluar-tertinggal). Kondisi seperti itu mungkin saja dapat membuat mereka menyerah dan kalah dengan keadaan. Sulitnya membuat perubahan atau berjuang maju sempat ada di benak mereka. Misalnya minimnya prasarana sekolah, perhatian pemerintah yang dinilai kurang, dan kualitas peserta didik yang diterima seolah tidak ada bekas pendidikan sebelumnya. Mungkin saja masih dijumpai anak-anak lulusan SD yang mendaftar ke SMP belum bisa membaca dan berhitung. Ataupun hal-hal lain yang mungkin dapat melumpuhkan diri. Begitulah kiranya keadaan dan tantangan para guru yang kiranya tidak hanya dirasakan oleh guru berlokasi 3T tetapi oleh sebagian dari kita sebagai guru di Cianjur.

Dengan keadaan tersebut, tidak menjadi suatu alasan untuk maju. Ketidaksempurnaan keadaan bukan menjadi alasan untuk tidak berbuat apa-apa dan menjadi sosok guru yang malas. Apakah sosok guru seperti itu yang diharapkan? Tentu tidak. Lantas, bagaimana cara rahasia-rahasia menemukan semangat itu?

Tiga kata yaitu MAU-MAMPU-MAJU merupakan rumusan sederhana dari Bapak Prof. Yus Rusyana. Istilah tersebut berisi urutan langkah manusia untuk bergerak maju dalam berbagai bidang dan usahanya. Rumusan ini menjelaskan pentingnya posisi kemauan sebelum mengharapkan bertambahnya kemampuan untuk terciptanya kemajuan.

Hematnya, jika ada kemauan pasti tercipta seribu jalan. Sebaliknya, jika tidak ada kemauan pasti tercipta seribu alasan. Oleh karena itu, kita harus menemukan dulu kemauan dan membangkitkannya. Setiap manusia akan menyala semangatnya ketika ia sudah menemukan jalan sejatinya. Jalan sejati apakah yang harus ditemukan oleh guru? Sebenarnya, cukup dengan menemukan tujuan. Tujuan mulia dalam melakukan sesuatu (mau). Tujuan dalam melakukan sesuatu (mengajar, mendidik, melatih) peserta didik. Menyalakan antusiasme dengan gaya kerja yang khas untuk mencapai tujuan melalui cara sendiri (mampu). Hal tersebut akan membuka ruang diri untuk menguasai hal-hal yang disenangi hingga tuntas (maju).

Akhir-akhir ini banyak pelatihan yang diikuti oleh para guru. Pelatihan-pelatihan tersebut bermaksud sangat baik yaitu memberi kemampuan kepada para guru. Sayangnya, pelatihan-pelatihan itu akan gagal jika diberikan kepada mereka yang tidak memiliki kemauan. Sungguh keliru jika kita masih  berpikir bahwa kemauan tidak terlalu penting. Mungkin saja orang beranggapan bahwa kemauan dapat ditumbuhkan dari hadiah (reward) atas prestasinya. Jadi, kemauan itu sangatlah penting untuk membawa kita mampu dan maju.

Langkah pertama yang dapat dilakukan untuk membangkitkan kemauan yaitu memiliki keyakinan bahwa di balik keterbatasan tersimpan kekuatan. Kita dapat menuliskan pengalaman-pengalaman dari tindakan-tindakan yang pernah kita lakukan atau melakukan wawancara dengan orang-orang di sekitar kita terkait pengalaman mereka dalam menyikapi keterbatasan. Dari cara-cara tersebut setidaknya dapat menambah keyakinan diri sebagai langkah awal menemukan kekuatan diri.

Langkah kedua yaitu memiliki keterampilan menghargai potensi lingkung dan kemampuan unik manusianya. ‘Lingkung’ adalah istilah yang dipopulerkan oleh Prof. Dr. Yus Rusyana yang dapat menggantikan makna dari kata ‘kontekstual’ yang merupakan serapan dari bahasa Inggris; contextual. Tiap daerah memiliki potensi lingkung yang berbeda dan khas. Lingkung terdiri atas alam fisik, alam hayati, masyarakat, budaya, dan kehidupan beragama. Termasuk Cianjur, Cianjur memiliki lingkungnya sendiri. Cianjur memiliki kearifan lokal di antaranya pilar budaya, pilar keagamaan, lokalitas tempat penting dan bersejarah, dll. Sikap menghargai dan mengembangan kearifan lokal Cianjur akan menghasilkan rasa penasaran untuk mengetahui lebih banyak tentang hal-hal unik yang masih ada, hingga yang sudah dilupakan.

Dari kedua hal di atas akan membantu membangkitkan kemauan. Baik itu kemauan dalam merancang program yang tepat maupun program yang kreatif. Program yang memandang keterbatasan sebagai kekuatan dan kekayaan lingkung sebagai jalan perubahan. Sudah saatnya sebagai seorang guru, kita dapat membangkitkan kemauan. Dimulai dari diri kita sendiri kemudian orang lain hingga masyarakat di sekitar kita karena kemauan merupakan sebuah seni pemberdayaan sumber daya manusia yang sangat penting.